ARTIKEL DAN OPINI I LAINNYA
|
|
ETIKA PENULISAN KARYA ILMIAH |
|
|
|
Ditulis Oleh: Satjipto Rahardjo
|
|

Dalam komunitas keilmuan dikenal maksim “Publish or Perish”. Maksim yang berbunyi demikian itu, memicu dan memacu para akademisien untuk menghasilkan karya ilmiah. Seorang ilmuwan akan diakui kehadirannya melalui tulisan-tulisan. Mereka adalah orang-orang yang “berpikir-dengan-tanganya”. Menulis sebuah karya ilmiah merupakan suatu genre tulisan tersendiri yang berbeda dari menulis puisi, novel, cerpen atau karya-karya yang lain. Karya karya tersebut berbeda dalam format penulisan, dalam hal ini format penulisan ilmiah. Oleh karena itu para penulis karya ilmiah barang tentu perlu memiliki pengertian tentang format tersebut bagaimanapun sederhananya.
Buku yang ditulis oleh sdr. Gunawan Wiradi ini menambah informasi dan wawasan bagi kita tentang seluk-beluk penulisan karya ilmiah yang sangat bermanfaat bagi komunitas akademis. Kelebihan dari tulisan ini adalah fokusnya kepada masalah etika, yaitu etika penulisan karya ilmiah.
|
|
selengkapnya...
|
|
|
Saatnya Pemerintah Buat Kebijakan Melindungi Industri TPT |
|
|
|
Ditulis Oleh: Yulia Sari
|
|
Dalam kurun lima tahun sampai awal 2006, 467 industri tekstil dan produk tekstil (TPT) gulung tikar. Sebanyak 227 (48,6%) di antaranya berlokasi di Jawa Barat. Apa yang terjadi? Banyak tulisan membahas tingginya ongkos produksi sebagai penyebab mundurnya industri TPT, tetapi sebetulnya ada situasi global yang sangat memengaruhi maju-mundurnya industri TPT, yaitu berakhirnya kuota tekstil bagi Indonesia.
TPT adalah bagian dari produk yang diatur dalam skema perdagangan internasional oleh WTO (World Trade Organization) melalui suatu kesepakatan yang disebut ATC (Agreement on Textiles and Clothing). Sebagai anggota WTO, mau tidak mau, suka tidak suka, Indonesia harus mematuhi berbagai point perjanjian itu.
|
|
selengkapnya...
|
|
Potret ”Negara Beling” |
|
|
|
Ditulis Oleh: Eka Chandra
|
|
Daerah Cicadas sempat dikenal sebagai daerah rawan, daerah tukang mabok, tukang tarok, dan tukang nyingsatkeun anderok. Bahkan ada istilah sendiri untuk menggambarkan daerah Cicadas, yaitu ”negara beling”.
”Dahulu di sini rawan, karena banyak tukang mabok. Sekarang hanya ada satu-dua orang, dan itu pun kalau punya uang, dahulu kerawanan termasuk perzinahan (ngawinkeun randa). Kalau disebut bangsat di sini disebut bangsat kukut, orang yang sedang mabuk silih kadek (saling bacok) dengan sesama tukang mabuk,” ungkap seorang warga Cicadas yang menolak disebutkan namanya.
|
|
selengkapnya...
|
|
|
Boyolali akan kembangkan sistem informasi kemiskinan |
|
|
|
Ditulis Oleh: Ida (Solo Pos)
|
|
Bupati Boyolali, Sri Moeljanto, mengatakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) akan mengembangkan sistem informasi kemiskinan. Hal itu disampaikan Bupati pada acara lokakarya bertema Kelembagaan Lokal dan Pengentasan Kemiskinan yang diadakan oleh Konsorsium Akatiga, Kompip dan Leskap di Pendapa Kabupaten Boyolali, Selasa (4/7).
”Sistem informasi kemiskinan itu akan menjadi bagian dari program pembangunan sistem partisipatif yang akan dilaksanakan di Boyolali. Sistem informasi kemiskinan itu salah satunya akan dikembangkan dengan menempelkan stiker lima aspek kemiskinan di rumah warga. Dengan stiker itu pendataan akan bisa dilakukan dengan lebih mudah,” ujar Bupati, sebagaimana dikutip dalam siaran pers yang diterima Espos dari panitia, kemarin.
|
|
selengkapnya...
|
|
|
|
|
|