[av_dropcaps1]T[/av_dropcaps1]ulisan ini mengenai dampak kapitalisasi pedesaan yang dipergencar dalam Revolusi Hijau terhadap perempuan sebagai kategori sosial-ekonomi. Pertama-tama, tulisan ini mengulas sumber-sumber penghidupan dan saluran-saluran yang melaluinya perempuan masuk untuk memperoleh pendapatan bagi rumah tangganya.

laki-laki dengan perolehan upah rata-rata buruh lebih rendah. Begitu pula kerja-kerja upahan dalam industri kecil pedesaan. Sebaliknya, dalam perdagangan kecil-kecilan, perempuan tampil lebih sering ketimbang laki-laki. Secara umum, latar jender dan kelas sosial tidak bisa dipisah. Keduanya berkelindan mempengaruhi peran dan kedudukan perempuan dalam struktur penghidupan rumah tangga.

Pendahuluan
Tulisan ini mengulas arti penting kategori jender dalam penghidupan rumah tangga di sebuah desa tani. Artikel ini merupakan bagian dari hasil penelitian lapangan dari Mei sampai Oktober 2007 di sebuah desa di Banyumas, Jawa Tengah. Penelitian utama yang menaunginya berkenaan dengan dinamika kerja dan penghidupan rumah tangga pedesaan Jawa, khususnya desa pertanian sawah. Desa Wetankali di Kecamatan Kutocilik yang diteliti berada di tepi jalan raya lintas selatan Jawa yang menghubungkan Yogyakarta dan Cilacap. Desa seluas kurang lebih 219 ha ini, dihuni tidak kurang 2500 jiwa. Lebih dari 74% lahannya adalah sawah dengan rata-rata luas kepemilikan oleh penduduk desa hanya 0,2 ha. Bagi orang Jawa di Wetankali, lahan garapan bukan sekadar sumber penghidupan tapi juga pengaji atau sesuatu yang menjadikan pemiliknya memiliki derajat setingkat lebih tinggi dari orang lain.

Rumah tangga tanpa sawah mencapai 57% dan rumah tangga tunakisma absolut sekitar 22%. Sekitar 40% penduduk dewasa adalah buruh tani. Dari sekitar 200 ha lahan pertanian, 14% milik desa yang penguasaannya diberikan kepada aparat desa dan hanya 6% saja lahan garapan milik desa yang bisa digarap bergiliran di antara penduduk. Selebihnya, yakni 80%, adalah lahan milik pribadi yang satu-satunya saluran memanfaatkannya ialah melalui pasar lahan (beli-sewa-gadai). Karena harga beli lahan sawah mencapai 200-500 ribu rupiah per ubin (14 m2), maka mereka yang sudah berada di lapisan buruh tani sulit kemungkinannya memiliki lahan garapan.

Kurang dari 1% menerjunkan diri ke dalam kerja-kerja berupah dan self-eksploited di luar pertanian. Hanya sekitar 1% rumah tangga mengandalkan perdagangan, industri kecil, dan usaha kecil-kecilan sebagai sumber nafkah. Di antara yang 1% inilah sebagian perempuan di Wetankali berada mencari penghidupan. Secara tipologis, Wetankali merupakan desa khas tepi jalan raya di Jawa. Sudah sejak lama Wetankali menjadi bagian dari jaringan perdagangan yang menghubungkan pusat kekuasaan tradisional Jawa dengan pelabuhan pantai selatan Cilacap di barat dayanya. Mungkin itulah sebabnya sumber penghidupan Wetankali tidak hanya pertanian Jawa warisan negara agraris Mataram, tetapi juga industri kecil dan perdagangan.

Metodologi
Metoda etnografis yang disertai survei dengan quisioner dan analisis data sekunder digunakan dalam penelitian ini. Survei dimanfaatkan untuk mengetahui latar sosial-ekonomi secara umum. Sedangkan data mengenai konteks kedudukan perempuan dalam kegiatan penghidupan lebih digali lewat wawancara mendalam (indepth interview) dengan beberapa informan. Wawancara mendalam terhadap informan terpilih dilakukan setelah dilakukan terlebih dahulu wawancara biasa dan penelusuran data umum rumah tangga melalui survei. Informan terpilih bisa dari berbagai rentang usia, jender, status pernikahan, atau pun tingkat pendidikan. Selain itu, pengamatan terstruktur untuk berbagai aktivitas sehari-hari penduduk juga dilakukan sebagai bagian dari strategi triangulasi. Penelitian lapangannya sendiri dilakukan dalam dua tahap. Di masing masing tahap, peneliti tinggal di desa tineliti selama kurang lebih 30 hari. Tahap pertama dari Mei hingga Juni, dan tahap kedua dari Juli sampai Agustus 2007.

Perempuan dan Pertanian
Di Wetankali, perempuan tampil hampir di semua kegiatan ekonomis. Dalam hal kepemilikan dan penguasaan atas lahan, kedudukan perempuan pada umumnya tidaklah begitu berbeda dibanding laki-laki. Orang-orang Wetankali, misalnya, masih mempraktikkan pewarisan berdasarkan adat kebiasaan setempat sehingga perempuan juga memperoleh hak memiliki lahan yang sama dengan laki-laki. Baik laki-laki maupun perempuan diakui kedudukannya sebagai pemegang hak milik atas lahan, paling tidak, secara formal seperti yang tercatat dalam buku pencatatan kepemilikan di kantor desa

Dalam hal pewarisan, sistem kekerabatan bilateral mungkin berpengaruh terhadap kedudukan perempuan sebagai ahli waris yang haknya sama dengan laki-laki. Praktik pewarisan di Wetankali menunjukkan ada perbedaan dengan praktik pewarisan yang berlaku di dalam kebudayaan Jawa. Ada kecenderungan sistem pewarisan di Wetankali dekat dengan praktek serupa di wilayah Pasundan.

Satu gambaran yang tampil ketika menilik catatan pemilik-pemilik lahan sawah dalam Daftar IPEDA Desa Wetankali Kopak I adalah bahwa lahan seluas 31 hektar lebih dimiliki oleh 139 penduduk Wetankali. Dari jumlah total pemilik, 84 orang atau sekitar 60%, laki-laki. Selebihnya, yaitu 55 orang atau 40% adalah perempuan. Rata-rata kepemilikannya sama dengan rata-rata kepemilikan seluruh desa, yaitu hanya 0,2 hektar saja. Meski seluruh pemilik perempuan menguasai hanya 13 hektar, tapi rata-rata kepemilikan per orangnya sedikit lebih tinggi daripada rata-rata kepemilikan per orang laki-laki.

Tampilan dalam kepemilikan lahan sawah tak begitu jauh berbeda dengan kepemilikan lahan kering. Perempuan mempunyai hak kepemilikan atas lahan pekarangan dan demikian juga atas rumah yang berdiri di atasnya. Dari 119 pemilik perempuan di Kopak I, sebagian besarnya (86 orang atau 70%) memiliki antara 10 hingga 50 ubin. Untuk membangun sebuah rumah dengan pekarangan yang bisa ditanami, 10 ubin (140 m2) sudah memadai. Secara keseluruhan, jumlah pemilik laki-laki (53%) memang lebih banyak daripada pemilik perempuan (47%). Arti penting kepemilikan lahan darat ialah karena di atas lahan itulah sebuah rumah tangga bisa mendirikan rumah. Kepemilikan lahan pekarangan merupakan jaminan adanya bidang yang bisa menjadi tempat bernaung. Selain itu, harga jual lahan pekarangan lebih tinggi daripada harga jual sawah.

Dalam pemasaran hasil sawah, tegalan, dan pekarangan ada beberapa kecenderungan sebagai berikut. Untuk transaksi gabah biasanya dilakukan oleh anggota rumah tangga laki-laki (suami). Namun, bila suami tidak ada di tempat, istri yang akan mengambil alihnya meski sebelumnya mesti minta izin. Dengan hadirnya handphone dalam daftar peralatan rumah tangga, izin pengambilalihan ini menjadi semakin sering dan mudah. Atau bila suami berpesan kepada istrinya untuk menangani transaksi. Dalam transaksi jual-beli hasil lahan ada juga kecenderungan mengikuti jenis kelamin pembelinya. Pedagang-pedagang pengangkut yang biasa mendatangi rumah ke rumah bisa seorang laki-laki, tapi tak jarang juga perempuan. Pedagang pengangkut kelapa, misalnya, hampir selalu laki-laki dewasa. Karenanya, anggota laki-laki dalam rumah tangga yang menghadapinya. Tapi, lagi-lagi, ini bukanlah keharusan yang baku. Sering ditemui juga justru suami menyerahkan semua transaksi jual kepada istrinya. Terutama, bila rumah tangga tersebut tergolong penggarap sawah yang cukup luas.

Untuk transaksi-transaksi yang melibatkan sejumlah besar uang, suami atau laki-laki tertua dalam rumah tangga yang akan turun tangan. Bila transaksi hanya menyangkut beberapa puluh atau ratus ribu rupiah dan berkenaan dengan hasil pekarangan, istrilah yang akan mengambil alih. Di dalam kerja-kerja pertanian di sawah, pemilahan jenis kerja berdasarkan jenis kelamin yang tegas hanya berlaku pada empat bentuk kerja, yaitu ngluku (mambajak), nampingi (merapikan pematang), ndhaut (menyiapkan benih siap tanam) dan tandur (menanam). Ngluku yang pada masa lalu menggunakan tenaga kerbau sebagai penarik bajak (luku) dan saat ini menggunakan traktor, selalu dikerjakan buruh laki-laki. Begitu pula nampingi atau merapikan pematang yang rusak saat pembajakan dan dilakukan tepat setelah ngluku dilakukan juga biasanya dilakukan oleh laki-laki, entah dengan mengupah buruh laki-laki ataupun dilakukan sendiri rumah tangga oleh penggarapnya.

Dua bentuk kerja, yaitu ndhaut dan tandur dilakukan berturut-turut dalam waktu yang susul-menyusul. Ndhaut atau mencabuti benih siap tanam (winih) dari semaian dan menaruhnya di tepi-tepi pematang petak sawah yang akan ditanami, selalu dikerjakan oleh buruh tani laki-laki. Esok harinya, benih-benih yang siap tanam ini ditanamkan dengan cara menancapkan akarnya ke dalam tanah di dalam petakan sawah. Inilah kerja tandur yang selalu dikerjakan oleh buruh-buruh perempuan.

Dua bentuk kerja di luar keempat kerja di atas, yaitu menyiangi (matun) dan menuai (derep) dikerjakan baik oleh buruh laki-laki maupun buruh perempuan. Dalam penyiangan, perbandingan buruh laki-laki dan perempuan tidaklah baku. Dalam beberapa kasus, satu kelompok penyiang beranggota enam orang terdiri dari 4 orang buruh perempuan dan dua buruh laki-laki. Dalam kasus lain yang beranggotakan 8 orang, lima 5 orang buruh laki-laki dan 3 orang buruh laki-laki.

Derep merupakan kerja pertanian yang padat karya. Meski sekilas ada keterbukaan relatif mengenai siapa saja yang boleh ikut terjun, namun nyatanya sudah menjadi lazim bila si pemilik lahan mempunyai seorang buruh kepercayaan yang selain juga ikut serta dalam panen juga mengorganisasi buruh-buruh yang akan ikut serta. Beberapa hari sebelum panen dilaksanakan, buruh kepercayaan ini segera menghubungi buruh-buruh tani di lingkaran kerabat atau tetangga dan memberikan jadual pemanenan. Pencarian ini tidak mudah karena dalam masa panen, kebutuhan akan jumlah buruh begitu tinggi. Setiap pemilik sawah ingin padinya segera dipanen. Perebutan tenaga kerja memang lazim. Di sinilah peran buruh langganan bagi keberhasilan panen di sawah majikannya. Fungsi pengawasan dan pengorganisasian dari buruh langganan menjadi penting karena kecurangan-kecurangan selama panen bukan sekadar desas-desus belaka. Dalam beberapa kasus ada pembedaan rasio pembagian bawon antara bawon untuk buruh langganan dan buruh panen bukan langganan. Untuk bawon buruh langganan atau buruh-buruh yang diorganisasi oleh buruh langganan rasionya adalah 1:8 (12,5%), sedangkan untuk bawon buruh bukan langganan bisa dipatok 1:10 (10%).

Seorang buruh langganan dipilih bukan karena jendernya. Beberapa kasus menunjukkan seorang buruh tani perempuan dijadikan buruh langganan oleh satu atau dua pemilik sawah. Dalam kasus Slamiati (60 tahun), kinerja yang ditunjukkan selama lebih dari duapuluh tahun sebagai buruh tani ditunjukkan dengan ketahanan hubungan berlangganannya dengan beberapa petani pemilik sawah hingga saat ini. Selain itu, kemampuannya menyewa beberapa petak sawah bengkok juga menunjukkan kinerjanya yang baik. Memang ada kemungkinan bahwa hubungan berlangganannya merupakan warisan dari suaminya, tapi telusuran lebih lanjut menunjukkan bahwa hubungan berlangganan ini lebih diikatkan pada rumah tangganya daripada kepada perseorangan suaminya. Artinya, selama ini kedudukan Slamiati adalah anggota sebuah rumah tangga buruh tani yang bisa dipercaya dan berkinerja baik. Hingga sekarang, di samping tetangga, beberapa anggota keluarganya, yaitu seorang anak perempuan dan menantu laki-lakinya yang tinggal di desa tetangga, selalu saja diikutkan ke dalam kelompok kerjanya. Kepercayaan si pemilik sawah untuk mempekerjakan buruh-buruh di bawah pimpinan Slamiati setelah suaminya meninggal menunjukkan bahwa pemilihan buruh langganan tidaklah berdasarkan jenis kelamin.

Keikutsertaan perempuan dalam kerja-kerja pertanian dilatari oleh kedudukan rumah tangganya dalam pelapisan sosial pemilikan lahan. Perempuan-perempuan dari rumah tangga petani pemilik sawah yang mengupah buruh dalam penggarapannya, kerja-kerja pertanian di sawah bukan kegiatan yang layak. Sumbangsih mereka biasanya dicurahkan untuk kerja-kerja di luar sawah seperti menyediakan makanan untuk suami atau buruh-buruh upahan (bancakan), mengawasi pemanen, mengawasi kerja penjemur atau justru ikut menjemur gabah, dan mengawasi pembagian bawon.

Ada sekitar 57% penduduk dewasa yang tidak memiliki lahan sawah. Orang-orang dalam golongan inilah yang sebagian besar memasuki kerja-kerja upahan pertanian sebagai buruh upahan, termasuk perempuannya. Bagi perempuan dari rumah tangga buruh tani, kerja-kerja pertanian merupakan tulang punggung perolehan uang tunai dan gabah untuk kebutuhan rumah tangganya. Selebihnya, kerja-kerja upahan di luar sawah dan kerja-kerja kegiatan sosial yang diupah makanan atau beras (seperti membantu perhelatan tetangga atau kerabat) dilakukan untuk menambah pemasukan rumah tangga. Bagi perempuan dari rumah tangga buruh tani dan petani kecil, keikutsertaan dalam membantu perhelatan tetangga atau kerabat merupakan salah satu sumber asupan pangan (terutama protein daging dan telur).

Ada sekitar 14% penduduk yang tercatat memiliki lahan sawah kurang dari 1000 m2 dan sekitar 17,8% yang memiliki lahan sekitar seperempat bahu. Mereka umumnya adalah petani-petani penggarap yang menggarap sendiri lahan yang dimiliki. Perempuan dalam rumah tangga petani penggarap, ikut mengerjakan beberapa kerja pertanian (seperti menanam, menyiangi, dan memberi pupuk) merupakan bagian dari tanggung jawab sebagai anggota rumah tangga untuk menghasilkan gabah untuk pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Untuk memperoleh uang tunai dan tambahan cadangan gabah, ikut kerja dalam kerja-kerja upahan, baik di sawah maupun di luar sawah, tidak jarang juga dilakukan.

Arti penting kelengkapan anggota rumah tangga bagi rumah tangga buruh tani dan petani penggarap kecil-kecilan ditunjukkan oleh menurunnya tingkat perolehan tahunan. Bila ada salah satu (suami/istri) dari rumah tangga buruh tani yang meninggal dunia, maka tak elak lagi besaran perolehan bawon akan berkurang. Dari informasi seorang perempuan buruh tani yang sudah menjalani pekerjaannya lebih dari 15 tahun diperoleh keterangan bahwa sejak suaminya meninggal, semua kerja-kerja tani demi pendapatan rumah tangga dilakukannya sendiri (anaknya ikut serta juga tapi demi rumah tangganya sendiri). Itupun dengan jumlah perolehan yang jauh lebih sedikit. Bila sebelumnya bisa diperoleh sekitar 3 kuintal bawonan, maka setelah suami meninggal dunia, perolehan bawon paling-paling hanya mencapai angka setengahnya (1 hingga 1,5 kuintal). Dari kasus ini jelas kiranya bahwa bagi perempuan-perempuan buruh tani (dan petani penggarap) kerja sama dengan semua anggota rumah tangga yang bisa bekerja untuk terjun ke kerja-kerja upahan bukanlah tanda kesadaran jender untuk menguasai tenaga kerjanya sendiri demi perolehan kedudukan dalam jaringan pengerahan tenaga kerja, tapi keharusan ekonomis untuk mempertahankan cadangan ekonomi rumah tangga. Kehilangan salah satu anggota berarti kehilangan kesempatan ekonomis.

Bagi rumah tangga buruh tani yang hanya mempunyai tenaga kerja untuk ditukar dengan beras atau uang, kelengkapan komposisi rumah tangga berdasarkan jenis kelamin amat penting. Seperti sudah diulas di muka, beberapa kerja khusus dikerjakan oleh buruh laki-laki dan satu pekerjaan yang khusus dilakukan buruh perempuan. Kejatuhan pendapatan musiman dari kerja-kerja pertanian sangat terasa bila laki-laki dewasa dalam rumah tangga tidak bisa lagi terjun ke kerja-kerja upahan (sakit parah, meninggal dunia, atau pergi dalam waktu lama). Hal ini tidak akan dialami oleh perempuan dari rumah tangga pemilik sawah. Ketiadaan laki-laki dewasa yang sebelumnya mengerjakan hampir semua kerja pertanian, bisa dipenuhi dengan menggarapkan bagi-hasil atau menyewakan lahan (biasanya kepada kerabat). Memang ada kemungkinan penurunan pendapatan tahunan dari sawah, tapi tidak semengguncang yang dirasakan rumah tangga buruh tani.

Jadi, dapat dikatakan kembali bahwa keikutsertaan perempuan dalam kerja-kerja pertanian sangat dipengaruhi kedudukan rumah tangganya dalam pelapisan sosial yang ada dan pelapisan sosial yang pokok didasarkan pada kepemilikan lahan. Sumber-sumber penghidupan yang mungkin dimasuki perempuan akan beragam bergantung kedudukan rumah tangganya dalam hubungan produksi pertanian. Arti penting masuk dan tidaknya perempuan ke dalam berbagai saluran penghidupan juga dipengaruhi kedudukan rumah tangganya.

Tabel 1 Jenis Kerja dan Upah Rata-rata per Jam dalam satu musim tanam

Jenis kerja Buruh Rata-rata upah per jam (Kg gabah) Kebutuhan tenaga kerja rata-rata tertinggi (orang/bahu/musim) Kebutuhan tenaga kerja rata-rata tertinggi (jam/bahu/musim)
L P
Ngluku/nraktor +

1,30

2

16

Nampingi +

0,97

2

14

Tebar + +

0,97

1

8

Dhaut +

3,98

2

16

Tandur +

1,36

20

280

Matun neras + +

0,97

8

112

Matun mindo + +

0,97

8

112

Derep + +

7,14

20

200

∑

758

                                                                                  Sumber: diolah dari data wawancara Juni 2007

                        + : diikutsertakan

                         – : tidak diikutsertakan

                        L : laki-laki

                        P : perempuan

                        Harga gabah kering 2350/kg (jenis IR-64 panen 2007)

Selain ada perbedaan-perbedaan berdasarkan kelas sosial, bagi buruh-buruh tani, kasus-kasus menunjukkan bahwa perolehan upah rata-rata buruh tidaklah setara antara buruh tani laki-laki dan perempuan. Buruh laki-laki berkesempatan memasuki lima atau lebih jenis pekerjaan. Rata-rata perolehan upah yang mungkin didapat buruh laki-laki adalah 1,5 kg gabah per jam untuk setiap jam kerja dari enam kali kesempatan kerja dari lima jenis kerja di sawah. Sedangkan buruh perempuan hanya mungkin memperoleh rata-rata 1,1 kg gabah per jam dari tiga kali kesempatan kerja dua jenis kerja saja.

Dalam hal lainnya, masuknya mesin penggiling gabah di awal 1980-an boleh dikatakan telah menghilangkan salah satu sumber pendapatan buruh perempuan. Sebelumnya, pengelupasan kulit gabah dilakukan dengan teknologi sederhana dengan cara menumbuknya dengan kayu penumbuk (alu). Kerja pasca panen ini biasanya dilakukan oleh buruh-buruh perempuan dan laki-laki di satu kelompok ketetanggaan. Buruh perempuan sebagai penumbuk dan buruh laki-laki sebagai pengangkutnya. Setelah adanya mesin penggilingan gabah, perempuan tersingkir. Tugasnya diganti oleh mesin buatan Jepang atau Cina. Sementara itu, buruh laki-laki masih terpakai sebagai kuli pengangkut gabah dan beras seperti sebelumnya. Selain menyingkirkan buruh perempuan, mesin penggiling juga mengurangi jumlah buruh yang bisa mengais rejeki. Amatan saat ini di tempat penggilingan gabah, buruh laki-laki yang dipakai hanya berkisar antara 2-6 orang saja bergantung jumlah mesin giling yang ada (2 mesin bisa dikerjakan 1 orang buruh). Di masa-masa ramai (masa panen, misalnya) jumlah ini hanya bertambah tak lebih 4-6 orang saja.

Dari berbagai penyelidikan dampak mekanisasi pertanian terhadap kerja-kerja buruh tani di perdesaan Jawa ditemukan adanya kecenderungan penyingkiran buruh perempuan dari beberapa pekerjaan atau masuknya laki-laki ke dalam pekerjaan yang sebelumnya selalu dilakukan buruh perempuan. Dalam panen misalnya, sebelum Revolusi Hijau memuncak, panen selalu dikerjakan oleh buruh-buruh perempuan menggunakan ani-ani. Dengan masuknya bibit baru yang menyaratkan pemanenan cepat untuk mengejar musim tanam berikutnya, panen tidak lagi dilakukan dengan ani-ani yang sebelumnya merupakan perkakas pokok yang ada di tangan perempuan. Dengan diperkenalkannya teknik panen yang cepat oleh para penyuluh, yaitu dengan menggunakan sabit (arit), maka laki-laki yang secara tradisional adalah pemegang sabit masuk ke dalam panen. Dalam hasil penelitian Collier dkk. (1973 dikutip Tjondronegoro 1999: 293), yang mengulas pengerahan tenaga kerja dalam pertanian padi dari 1878-1980 menemukan bahwa sebelum Revolusi Hijau, derep dikerjakan 200 hingga 500 buruh perempuan untuk satu hektar sawah. Setelah diperkenalkannya teknologi panen baru, yaitu dengan sabit, satu hektar sawah hanya butuh 10 hingga 20 buruh pemanen, baik perempuan maupun laki-laki (lihat juga Collier dkk. 1996: 60-3). Menurut Tjondronegoro (1999: 293), sistem derep dan bawon sangat berkurang karena ongkosnya dianggap terlalu mahal bagi pemilik sawah dan penebas. Artinya, komersialisasi merasuk ke dalam ekonomi sawah sedemikian rupa sehingga perhitungan kapitalistik lebih diutamakan ketimbang perhitungan sosial.

Perbandingan Benjamin White (1985) atas sejarah curahan tenaga kerja buruh laki-laki dan perempuan dalam kerja-kerja pertanian sebelum dan sesudah Revolusi Hijau menunjukkan adanya pengurangan jumlah penggunaan tenaga kerja perempuan. Perubahan sistem panen tidak hanya berpengaruh terhadap perubahan teknologi budidaya padi atau memberikan tekanan baru kepada penggarap untuk mengurangi ongkos kerja, tapi juga kemampuan politik perempuan mempertahankan diri dari perubahan-perubahan yang berdampak pada pengurangan ‘jatah’nya dalam kerja-kerja pertanian (White 1985: 142-4). Kesimpulan serupa diajukan oleh Hesti Wijaya dalam penelitiannya di beberapa desa di Jawa Timur dan Pujiwati Sayogjo di Jawa Barat. Menurut Hesti Wijaya, masuknya teknologi baru sama sekali tidak mengubah hak perempuan untuk memiliki dan mengalihkan lahan miliknya. Perubahan paling pokok yang diakibatkan teknologi baru adalah menurunnya kesempatan untuk mengerjakan beberapa kerja tani tertentu, baik sebelum maupun sesudah panen (Wijaya 1985: 183-4).

Dalam hasil kajian tentang dampak teknologi baru dalam pertanian padi terhadap pengerahan tenaga kerja perempuan, Pudjiwati Sajogyo selain menemukan adanya kecenderungan peminggiran tenaga kerja perempuan dari beberapa kerja pertanian, ditemukan juga kaitan antara latar belakang rumah tangga dalam hal kepemilikan lahan dan siasat pemilihan saluran penghidupan perempuan anggotanya. Menurutnya, semakin sedikit lahan yang bisa dijangkau, maka semakin besar kemungkinannya perempuan memasuki saluran-saluran penghidupan bukan-pertanian seperti perdagangan, jasa, industri renik  perdesaan (Sajogyo 1985: 168).

Dalam hasil penelitian Pudjiwati Sajogyo lainnya tentang dampak teknologi terhadap peluang kerja perempuan dalam budidaya padi sawah disimpulkan bahwa sejak akhir 1960-an hingga 1970-an telah terjadi perubahan berarti dalam pola kerja pertanian. Kerja-kerja pertanian seperti panen dan pengolahan produksi padi cenderung didominasi tenaga kerja laki-laki. Hal ini tampak dari ketimpangan jam kerja, upah, dan mengecilnya saluran yang mungkin dimasuki buruh perempuan. Dampaknya bagi rumah tangga miskin adalah menurun atau hilangnya sebagian pendapatan rumah tangga dan mendorong perempuan memasuki sektor bukan-pertanian (Sajogyo 1993: 140-1).

Perubahan-perubahan dalam budidaya padi sawah, terutama mekanisasi sejak dasawarsa 1970-an di pedesaan Jawa dipandang Collier dkk. sebagai penanda menurunnya suatu jaringan kesejahteraan sosial bagi penduduk miskin, terutama perempuan. Perubahan perkakas panen dari ani-ani ke sabit memungkinkan panen cukup dikerjakan oleh beberapa buruh laki-laki saja dan bukannya dilakukan oleh beratus-ratus buruh perempuan (Collier dkk. 1996: 65). Perubahan kekuatan produktif, terutama teknik dan perkakas, tidak pernah berhenti. Sepanjang sejarah manusia teknologi, perkakas, dan teknik pengolahan lahan serta budidaya tanaman pangan terus berubah. Dampaknya adalah menurunnya kebutuhan akan tenaga kerja manusia secara bertahap (lihat tabel berikut).

Tabel 2 Kebutuhan Tenaga Kerja Rata-rata dalam Budidaya Padi Sawah di Jawa

Tahun Kebutuhan tenaga kerja

(jam-orang/hektar)

Keterangan

 

1875-1876

1747

1878

1888

1886-1887

1563

1925-1931

1534

1969-1971

1357

jenis padi lokal

1246

jenis padi unggul
1975-1980

1162

1987

1030

tanpa traktor

832

dengan traktor
1992-1993

937

tanpa traktor

805

dengan traktor

                                                               Sumber: diolah kembali dari Collier dkk. (1996: 101-4)

Dalam kurun waktu 118 tahun, telah terjadi penyusutan kebutuhan sekitar 942 jam kerja orang per hektarnya atau sekitar 54%. Dengan kata lain penyusutan rata-rata per tahun mencapai 7 hingga 8 jam. Namun, seperti cepatnya perputaran bola bumi, perubahan kebutuhan tenaga kerja dalam budidaya padi sawah tak begitu terasa dalam kehidupan sehari-hari. Penurunan kebutuhan tenaga kerja menyusut sedikit demi sedikit. Di sisi lain, penurunan kebutuhan jumlah tenaga kerja diiringi dengan peningkatan dalam produksi padi. Di Jawa, peningkatan produktivitas itu mencapai lebih dari 350% dalam jangka waktu 107 tahun. Perubahan drastis dimulai dasawarsa 1970-an ketika bibit unggul diperkenalkan dan dipercepat dengan masuknya traktor yang meringkas waktu pengolahan tanah (lihat tabel berikut).

Tabel 3 Produksi Padi Rata-rata Tertinggi di Jawa 1886-1993

Tahun Jumlah (ton/ha) Keterangan

 

1886-1887

1,7

Jenis bibit lokal
1916-1920

2,2

Jenis bibit lokal
1925-1930

2,39

Jenis bibit lokal
1969-1971

3,2

Sebagian jenis unggul
1975-1981

3,9

Jenis bibit unggul
1987

5,6

Jenis bibit unggul
1992-1993

6,1

Jenis bibit unggul

                                               Sumber: diolah kembali dari Collier dkk. (1996: 96-97)

Di Jawa secara umum, dan di Wetankali secara khusus, kebutuhan tenaga kerja dalam budidaya padi sawah akan tetap berkisar 700-800 jam/bahu/musim dengan produktivitas tertinggi sekitar 5-6 ton/bahu (6-7 ton/ha). Jenis traktor tidak berubah sejak pertengahan dasawarsa 1980-an. Begitu pula dengan bibit. Pada tengah dasawarsa 1990-an, jenis pupuk baru, yaitu pupuk tablet yang ditanam di tanah mulai diperkenalkan. Sampai saat ini sebagian petani menggunakan pupuk tablet dan sebagian lainnya masih menggunakan pupuk sebar. Namun, tidak ada peningkatan produktivitas yang dramatis karena masuknya bentuk pupuk baru. Boleh dikatakan bahwa sampai saat ini belum ada peningkatan kekuatan produktif baru lagi.

Sampai sekarang, di Wetankali, peningkatan produktivitas tahunan hanya mungkin dengan menjaga pasokan serta meningkatkan efektivitas dan efisiensi pemanfaatan air irigasi. Tidak ada data perhitungan yang bisa diperoleh, namun ada kecenderungan umum bahwa hasil produksi padi menurun pada musim tanam kedua. Sebab pokoknya adalah kelangkaan air. Ketergantungan semua petani kepada air dari saluran irigasi non-teknis menjadikan musim berperan penting dalam meningkatkan atau menurunkan hasil produksi. Oleh karena karena itu, lagi-lagi, irigasi menjadi jalan keluar yang terdekat mengatasi penurunan produktivitas sawah.

Peningkatan produktivitas sawah dengan memperbaiki penyaluran air irigasi, terutama berfaedah bagi buruh tani. Sebabnya karena selama ini kekurangan air di musim tanam kedua telah mempengaruhi sebagian petani untuk tidak menanam padi dan lebih memilih palawija atau sayur-mayur. Kedua jenis tanaman ini umumnya tidak padat karya dan bisa dibudidaya dengan tenaga kerja yang tersedia dalam rumah tangga. Lebih-lebih, keduanya tidak dipanen dengan sistem bawon sehingga menutup saluran buruh tani memperoleh cadangan pangan. Bila kekeringan di musim tanam kedua terus berlangsung dan meluas, maka akan semakin banyak petak sawah yang tidak ditanami padi dan berujung pada penyempitan saluran perolehan gabah bagi rumah tangga buruh tani.

Perkembangan masalah air ini mungkin akan berujung juga ke kemunculan mesin penyedot air dalam seperti yang sudah banyak disaksikan di desa-desa yang mengalami nasib serupa dengan Wetankali. Seperti ketika traktor hadir dalam pembajakan dan menyingkirkan kerbau-kerbau dari sawah, kehadiran sumur pompa dan mesin sedot air pasti akan mengubah tampilan masyarakat.

Peningkatan produktivitas dari luar irigasi tampaknya belum menunjukkan gelagat kemungkinannya. Teknologi pertanian Indonesia belum memunculkan perkembangan baru yang betul-betul revolusioner seperti ketika diperkenalkannya bibit unggul berumur 110 hari dan traktor tangan berkekuatan 12 tenaga kuda. Namun, bila pun ada perkembangan di masa depan, maka di Wetankali dampaknya akan beragam untuk rumah tangga petani pemilik lahan, penggarap, dan buruh tani. Dampaknya akan beragam juga terhadap laki-laki dan perempuan tani. Sebagai contoh bila perkembangan terjadi dalam perkakas atau permesinan, maka seperti sejarah masuknya sabit dan mesin penggiling padi yang pernah terjadi sebelumnya, maka tenaga kerja buruh perempuanlah yang akan pertama-tama terdepak. Masuknya teknologi baru, terutama yang paling mungkin terjadi di masa depan, yaitu mesin pemanen, akan sangat mengguncang saluran-saluran yang selama ini bisa dimasuki lapisan buruh tani perempuan. Tapi secara umum perkembangan permesinan, di satu sisi akan berujung pada bertambahnya tingkat ketersingkiran buruh tani dan petani miskin untuk memperoleh manfaat dari sawah, dan peningkatan kemungkinan akumulasi kekayaan di kalangan petani kaya dan pemilik kapital uang di sisi lain. Meski hubungan desa dan kota semakin mudah dan murah dibanding 50 tahun lalu dan memungkinkan migrasi keluar dari desa semakin besar, tetap saja ketegangan di dalam akan muncul.

Dalam etnografinya tentang kehidupan kampung di Semenanjung Malaya, James Scott menyoroti perubahan-perubahan teknis dalam budidaya padi di sawah dan dampaknya terhadap penghidupan masyarakat. Dalam temuannya, kemunculan mesin pemanen mengurangi penerimaan upah buruh tani sampai 44% yang berarti “menghancurkan dan sukar untuk membayangkan bagaimana mereka dapat hidup dalam keadaan yang baru itu” (Scott 2000: 101). Scott juga menegaskan bahwa dampak langsung mesin pemanen terhadap upah begitu jelas dan dramatis, “akan tetapi dalam jangka lama akibat tidak langsungnya mungkin lebih menghancurkan” (idem).

Perempuan dan Penghidupan di Luar-pertanian
Pudjiwati Sayogjo (1985, 1993) menyimpulkan bahwa ketika permesinan memasuki bidang pertanian sehingga tenaga-tenaga kerja perempuan tersingkir dari atau kian sempit kesempatannya memasuki saluran-saluran penghidupan di pertanian, maka jumlah perempuan yang memasuki saluran penghidupan di luar-pertanian akan besar. Mungkin kesimpulan ini didasarkan pada pengandaian bahwa kegiatan industri dan perdagangan di desa dan sekitarnya cukup banyak dan padat karya sehingga mampu menampung buruh-buruh tani yang terusir dari lahan itu. Tampilan seperti ini belum tentu bisa ditemui di banyak desa di luar desa-desa sentra kerajinan dan industri kecil.

Di Wetankali, orang-orang yang terdesak keluar dari pertanian bukan hanya buruh-buruh tani perempuan, tapi juga para buruh tani laki-laki. Sementara itu, perkembangan bidang industri dan perdagangan boleh dikatakan lambat dan tidak mampu menampung kelebihan tenaga kerja di pertanian. Itulah sebabnya tidak sedikit penduduk, terutama yang tergolong usia muda, keluar dari desa dan mencoba memasuki saluran-saluran penghidupan di perkotaan. Migrasi keluar karena alasan ekonomi ini sudah bukan gejala akhir-akhir ini saja.

Dari sedikit kegiatan industri di dalam dan sekitar desa, hampir sebagian besarnya merupakan saluran yang sedikit sekali terbuka bagi buruh perempuan. Kegiatan industri pembuatan batako, pencetakan bata merah, usaha pembuatan nisan, bengkel perbaikan kendaraan bermotor, dan pembuatan jenang hanya mempekerjakan buruh laki-laki. Itupun dengan kebutuhan jumlah tenaga kerja yang tidak melampaui 10 orang. Kerja bangunan dan pertukangan pun demikian. Baik tukang maupun buruh bangunan semuanya laki-laki. Saluran yang terbuka bagi buruh perempuan hanya usaha kecil-kecilan seperti usaha pembuatan tempe atau pembuatan tape kenyas. Perempuan-perempuan dari rumah tangga buruh tani juga hanya berkesempatan menjadi pembantu rumah tangga di rumah-rumah orang kaya atau pelayan di warung atau rumah makan yang jumlahnya tidak sebanding dengan banyaknya buruh-buruh perempuan yang mencari nafkah di luar pertanian.

Tampilan jender dalam perdagangan cukup menarik untuk diperhatikan. Pertama-tama, perempuan ada di berbagai lapisan kegiatan perdagangan. Perempuan dari rumah tangga petani penggarap atau dari rumah tangga miskin lainnya hanya mungkin memasuki bidang perdagangan kecil-kecilan seperti warung rumahan atau penjaja makanan berkeliling. Kegiatan marung (membuka usaha warung) kecil-kecilan di rumah hampir sudah menjadi kebiasaan umum dilakukan perempuan. Bila rumah tangga tersebut mengandalkan saluran perdagangan sebagai sumber pokok penghidupan, maka biasanya perempuanlah yang menangani perdagangan kecil-kecilan di rumah sementara laki-laki berdagang dari pasar ke pasar atau berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya. Hampir semua penjaja makanan di pinggir-pinggir jalan raya juga perempuan.

Bagi sebagian buruh perempuan, saluran-saluran penghidupan di pedesaan boleh dikatakan sudah sangat sempit dan hampir-hampir tertutup. Ada semacam peminggiran perempuan dalam arti bahwa perempuan dari rumah tangga buruh tani yang terdepak dari pertanian berkumpul di sektor-sektor yang pinggiran dan sekadar memperoleh nafas tambahan agar tetap bisa hidup melanjutkan kehidupan rumah tangga. Gambaran ini tidak terjadi pada perempuan dari kalangan rumah tangga lapisan atas. Ketika perempuan-perempuan dari rumah tangga lapisan atas memasuki perdagangan, maka yang dimasuki adalah kedudukan sebagai pemilik atau manajer toko, pedagang penampung hasil pertanian, manajer keuangan dan pemasaran perusahaan keluarga, atau penyelenggara usaha-usaha jasa yang pasarnya melampaui wilayah desa.

Pilihan saluran penghidupan perempuan tidak bisa dilepaskan dari siasat rumah tangga secara umum. Itulah sebabnya tesis tentang pemiskinan perempuan hanya berlaku pada tingkat pra-anggapan yang umum saja. Dari kasus-kasus mikro, nyatanya kelas sosial lebih berperan dalam mempengaruhi pilihan-pilihan penghidupan perempuan di luar pertanian. Persoalan kelas sosial bukan hanya terkait dengan kedudukan dalam suatu pembagian kerja sosial, namun juga terhubung dengan nilai-nilai dan gaya hidup yang dikembangkan kelas tersebut. Putri keluarga petani kaya yang pernah mengenyam pendidikan perguruan tinggi di kota, tentu kecil kemungkinannya memasuki kerja-kerja upahan di desa. Sebaliknya, anak perempuan dari rumah tangga petani penggarap yang seumur hidupnya berada di lingkungan yang mengagungkan nilai bertahan hidup rutin dari musim ke musim, tentu akan besar kemungkinannya untuk memasuki kerja-kerja upahan di dalam desa entah menjadi pelayan warung atau pembantu rumah tangga untuk keluarga kaya.

Salah satu saluran yang sekarang semakin mungkin untuk dimasuki perempuan adalah menjadi tenaga kerja ke luar negeri. Berita derita TKW tidak bisa menghalangi harapan sebagian orang untuk bekerja ke negeri asing. Iming-iming limpah kekayaan yang bisa dibawa pulang seperti yang terpajang secara simbolis dari toko bahan bangunan milik mantan TKI di Dusun I terus-menerus menarik orang-orang tanpa lahan untuk memasuki saluran pencarian kekayaan di negeri asing ini.

Asal-usul kelas dari para perempuan yang mengadu nasib ke luar negeri umumnya merujuk ke lapisan yang boleh dikatakan bukan dari buruh-tani. Meski sejak pertengahan dasawarsa 1990-an ada kemungkinan memasuki saluran TKW dengan sistem pinjaman yang dibayar bila sudah bekerja, tetapi hingga sekarang hanya anak perempuan rumah tangga golongan menengah saja yang pergi.

Pada tahun 2007 tercatat 26 orang TKI/W yang masih terdaftar sebagai penduduk Wetankali. Dalam Daftar Pemilih Sementara Pilkades Wetankali 2007, negara-negara tujuan para TKI/W ada enam, yaitu Arab Saudi, Malaysia, Singapura, Taiwan, Jepang, dan Korea Selatan. Sebenarnya, jumlah TKI/W dari Wetankali bisa jadi lebih besar dari data yang ada di kantor desa sebab tidak semua calon pekerja mencatatkan diri ke kantor desa. Menurut kabar dari beberapa orang penduduk, tidak sedikit calon pekerja yang tidak tercatat atau dibuatkan KTP dan surat keterangan palsu oleh agen-agen penampung TKI/W. Dari berbagai kabar setempatan, sejak tahun 2000 hingga 2007 bisa diperkirakan ada sekitar 40-70 penduduk Wetankali yang menjadi TKI/W.

Dari keseluruhan 26 TKI/W, 54% adalah pekerja perempuan yang sebagian besar, yaitu 70%, bekerja di Arab Saudi sebagai pembantu rumah tangga. Sementara itu, pekerja laki-laki sebagian besar (42%) bekerja di Malaysia sebagai buruh bangunan, buruh perkebunan, atau buruh pabrik manufaktur. Jumlah pekerja laki-laki di Arab Saudi juga cukup banyak. Sebagian besar mereka bekerja sebagai sopir.  Jepang dan Korea tampaknya bukan negara tujuan bagi pekerja perempuan dari Wetankali. Semua TKI/W dari Wetankali yang pergi ke dua negara Timur Jauh itu adalah laki-laki dan umumnya bekerja sebagai buruh pabrik elektronik atau perakitan kendaraan bermotor. Mungkin hal ini terkait dengan latar pendidik yang berbeda antara pekerja laki-laki dan perempuan. Umumnya, pekerja laki-laki yang pergi ke luar negeri mempunyai latar pendidikan sekolah teknik (STM), sedangkan pekerja perempuan sebagian besar berlatar pendidikan sekolah umum.

Usia pekerja merentang dari 20 tahun sampai 46 tahun. Sebagian besar pekerja (46%) berangkat pada rentang usia 20-30 tahun. 30% mereka yang berusia 30 hingga menjelang usia 40. Sebagian kecil saja (23%) yang tercatat berusia di atas 40-an. Pekerja laki-laki umumnya berangkat ke luar negeri pada usia-usia muda, yaitu 20-25 tahun, sedangkan pekerja perempuan terbanyak berangkat pada usia di atas 35-39 tahun. Menurut penuturan beberapa mantan TKI, ada kecenderungan bahwa yang dibutuhkan pabrik-pabrik elektronik di Jepang dan Korea Selatan adalah pekerja-pekerja yang berpengalaman 1 atau 2 tahun saja setelah lulus sekolah menengah teknik.

Ada beberapa saluran yang bisa dimasuki seseorang calon TKI/W. Salah satunya adalah melalui agen penyalur (sponsor), baik yang tinggal di Wetankali maupun dari luar desa. Agen-agen besar banyak berkantot di beberapa kota sekitar Wetankali seperti Banyumas, Gombong, Kebumen, Cilacap, dan Purwokerto. Agen-agen besar ini biasanya mempunyai semacam agen di tingkat desa yang bekerja secara perseorangan. Para penyalur biasa mendatangi rumah-rumah penduduk yang memiliki anggota rumah tangga dengan kualifikasi cocok untuk menjadi TKI/W. Agen-agen penyalur ini merupakan salah satu sumber informasi mengenai besarnya upah, tatacara menjadi TKI/W, dan negara tujuan yang sesuai dengan keterampilan dan latar pendidikan yang dimiliki calon.

Selain dari agen penyalur, pengetahuan mengenai seluk-beluk kerja di luar negeri juga bisa diperoleh dari iklan-iklan radio. Beberapa agen penyalur resmi yang cukup besar biasanya mengiklankan tawaran penyaluran kerja di luar negeri melalui radio. Namun, sebagian besar TKI/W memperoleh berbagai informasi pertama-tama melalui mantan TKI/W yang sudah kembali ke desa. Tidak jarang TKI/W yang sedang pulang ini berangkat kembali dengan membawa teman atau tetangganya yang tertarik untuk ikut bersamanya.

Fenomena TKI/W bukan sesuatu yang khas Jawa, tapi jelas sangat khas pedesaan. Seperti halnya Breman dan Wiradi (2004), kami melihat gejala ini pertama-tama sebagai bagian dari proses internasionalisasi tenaga kerja karena munculnya kelebihan relatif tenaga kerja di pedesaan, baik sektor pertanian maupun bukan-pertanian. Selain itu, dilihat dari latar belakang ekonomi rumah tangganya, berangkat ke luar negeri sebagai TKI/W merupakan bagian dari siasat konsolidasi ekonomi rumah tangga lapisan menengah yang melihat terbukanya satu saluran untuk mencari penghidupan yang bisa mempertahankan cadangan ekonomi rumah tangga atau, bila beruntung, bisa menjadi sumber akumulasi kekayaan.

Kesimpulan
Sulit dipungkiri bahwa kategori jender berperan penting dalam penghidupan dan bertahan hidupnya rumah tangga. Pembagian kerja kerja berdasarkan jender di tingkat komuniti berkelindan dengan pembagian kerja dan komposisi berdasarkan jender di tingkat rumah tangga. Namun, jender bukan dan tidak bisa dijadikan patokan satu-satunya untuk mengulas pola pekerjaan dan penghidupan rumah tangga. Kemungkinan memasuki, keluar, ditarik, atau terdepak dari sumber penghidupan tertentu terutama dipengaruhi oleh latar belakang kelas meski unsur jender tetap tak bisa dilepaskan. Sebagai kategori sosial, kelas menjadi semacam simpul pengikat berbagai kategori sosial pokok lainnya (usia, jender, orientasi politik, orientasi keagamaan).

Daftar Pustaka

Breman, Jan dan Gunawan Wiradi (2004) Masa Cerah dan Masa Suram di Pedesaan Jawa: Studi Kasus Dinamika Sosio-ekonomi di Dua Desa Menjelang Akhir Abad ke-20. Jakarta: LP3ES dan KITLV-Jakarta.
Collier, William dkk. (1996) Pendekatan Baru dalam Pembangunan Pedesaan di Jawa: Kajian Pedesaan Selama Dua Puluh Lima Tahun. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Sajogyo, Pudjiwati (1985) The Impact of New Farming Technology on Women’s Employment, dalam Women in Rice Farming. Aldershot dan Vermont: Gower Publishing Company untuk International Rice Research Institute, hlm. 149-169.
Sajogyo, Pudjiwati (1993) Teknologi Pertanian dan Peluang Kerja Wanita di Pedesaan: Suatu Kasus Padi Sawah; dalam Mubyarto (ed.) Peluang Kerja dan Berusaha di Pedesaan. Yogyakarta: BPFE untuk P3PK UGM, hlm. 83-141.
Scott, James C. (2000) Senjatanya Orang-orang Kalah: Bentuk-bentuk Perlawanan Sehari-hari Kaum Tani. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Tjondronegoro, Sediono M.P. (1999) Revolusi Hijau dan Perubahan Sosial di Pedesaan Jawa, dalam Sediono M.P. Tjondronegoro. Keping-keping Sosiologi dari Pedesaan. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, hlm. 282-311.
Wijaya, Hesti R. (1985) Women’s Access to Land Resources: Some Observation from East Javanese Rural Agriculture, dalam Women in Rice Farming. Aldershot dan Vermont: Gower Publishing Company untuk International Rice Research Institute, hlm. 171-185.
White, Benjamin (1985) Women and the Modernization of Rice Agriculture: some General Issues and a Javanese Case Study, dalam Women in Rice Farming. Aldershot dan Vermont: Gower Publishing Company untuk International Rice Research Institute, hlm. 119-148.


Peneliti AKATIGA Pusat Analisis Sosial; Staf Pengajar Jurusan Antropologi Universitas Padjadjaran,.
Data primer dibantu dikumpulkan oleh Putu Aryo dan Deni Mukbar, staf peneliti AKATIGA, Pusat Analisis Sosial, Bandung.
Nama desa dan nama-nama lainnya dipalsukan.