etika

Dalam komunitas keilmuan dikenal maksim “Publish or Perish”.

Maksim yang berbunyi demikian itu, memicu dan memacu para akademisien untuk menghasilkan karya ilmiah. Seorang ilmuwan akan diakui kehadirannya melalui tulisan-tulisan. Mereka adalah orang-orang yang “berpikir-dengan-tanganya”. Menulis sebuah karya ilmiah merupakan suatu genre tulisan tersendiri yang berbeda dari menulis puisi, novel, cerpen atau karya-karya yang lain. Karya karya tersebut berbeda dalam format penulisan, dalam hal ini format penulisan ilmiah. Oleh karena itu para penulis karya ilmiah barang tentu perlu memiliki pengertian tentang format tersebut bagaimanapun sederhananya.

Buku yang ditulis oleh sdr. Gunawan Wiradi ini menambah informasi dan wawasan bagi kita tentang seluk-beluk penulisan karya ilmiah yang sangat bermanfaat bagi komunitas akademis. Kelebihan dari tulisan ini adalah fokusnya kepada masalah etika, yaitu etika penulisan karya ilmiah.

Etika penulisan adalah lebih daripada masalah teknis penulisan itu sendiri. Ia sudah bicara tentang apa yang seharusnya dilakukan dan yang tidak. Seseorang secara teknis, boleh telah menulis dengan cara yang benar, melainkan tetap ada resiko melanggar etika penulisan ilmiah. Etika lebih menyentuh hati daripada nalar pikiran.

Buku yang ditulis oleh sdr. Gunawan Wiradi memerlukan banyak halaman untuk membicarakan plagiarisme. Plagiarisme sudah memasuki ranah etika, oleh karena berbicara tentang kejujuran dan penghormatan. Oleh karena itu bagus sekali bahwa sdr. Gunawan Wiradi mengangkat dan mengingatkan kita akan pentingnya masalah tersebut. Bagi saya, memang kejujuran dalam penulisan karya ilmiah memiliki nilai jauh lebih tinggi daripada aspek teknisnya. Dengan demikian pantaslah apabila maksim “publish or perish” itu disandingkan dengan “be honest or perish”

Saya menyaksikan tidak sedikit bibit-bibit yang memiliki masa depan yang bagus, namun akhirnya “lenyap dari peredaran” karena faktor ketidakjujuran yang mereka lakukan.

Maka, penyebaran peringatan tentang pentingnya memedulikan etika penulisan melalui buku ini sungguh dibutuhkan, khususnya untuk kalangan penulisan pemula. Janganlah bibit-bibit yang baik menjadi pupus karena telah melakukan “bunuh diri” dengan berperilaku tidak jujur. Sekali lancung ke ujian selamanya orang tidak akan percaya lagi.

Melalui praktek menulis secara terus menerus, kualitas sebuah karya ilmiah dapat ditingkatkan, tetapi sulit sekali memulihkan martabat seseorang, manakala sekali ia melakukan ketidak-jujuran.

Satjipto Rahardjo (alm)
Semarang,   Juni 2009