Oleh : Mohamad Agus Fatkhulloh

Ini hanyalah sepenggal cerita dari saya si Petani Pemula yang mencoba peruntungan sekaligus mencari pengalaman dalam dunia pertanian. Sudah sejak lama pertanian menjadi hal yang cukup banyak menarik perhatian saya. Sebagai manusia yang lahir dan besar di pedesaan, tentu saja bertani bukanlah suatu hal yang baru dan asing. Sudah sejak kecil saya akrab dengan sawah dan pertanian. Kebiasaan berbaur dengan para petani dan terus menerus disuguhkan pemandangan pertanian di lingkungan tempat saja tinggal ternyata menjadi pondasi yang cukup bagi saya untuk terus berkeinginan mendalami dan mempelajari sektor pertanian ini.

Saat ini usia saya beranjak 22 tahun, dan sudah sejak satu tahun lalu saya mencoba untuk mencicipi dunia pertanian yang penuh dengan tantangan ini. Kisah ini bukanlah cerita manis dari perjalanan saya mencoba peruntungan di dunia pertanian, namun besar harapan saya bahwa cerita ini dapat menjadi pemantik semangat untuk semua orang yang baru atau sedang mulai bertani. Satu tahun lalu, saya berkesempatan untuk mencoba bertani, dan bawang putih menjadi komoditas yang saya pilih. Tentu saja memilih bawang putih sebagai teman bertani bukanlah tanpa alasan. Hal yang mendasar dari saya memilih komoditas ini adalah karena bawang putih menjadi produk pertanian unggulan di daerah tempat saya tinggal yang lambat tahun mulai dilupakan.

Sebagai pemuda yang memiliki idealisme dan rasa semangat yang sangat bergelora hal tersebut dianggap sebagai peluang sekaligus tantangan. Selayaknya pemuda, saya juga memiliki idealisme dan keinginan besar dalam mengembangkan dan kembali mengenalkan bawang putih lokal yang sudah lama mati suri, akan tetapi saya lupa bahwa modal semangat saja tidak cukup dalam bertani. Karena bertani berarti siap untuk segala kegagalan yang ada didepan mata, sayangnya bayangan kegagalan yang mungkin akan menghadang seakan lenyap dan tertutupi oleh ambisi dan idealisme yang saya miliki.

Seakan menemukan air ditengah padang oase, masih jelas dalam ingat saya memori  kebahagiaan ketika saya memilih benih-benih bawang putih yang akan saya tanam. Dalam bayangan saya saat ini adalah “saya akan mendapakan keuntungan besar dari benih-benih kecil ini”. Bahkan lebih jauh dari itu, saya sudah membayangkan barang-barang yang akan saya beli dari hasil kerja keras saya sebagai petani. Imajinasi yang menurut saya sangat wajar untuk para petani pemula yang belum pernah mencicipi kegagalan dalam bertani seperti saya pada saat itu.  Selepas benih saya beli, tahapan berikutnya dari bertani adalah menanam. Saya dan beberapa orang kepercayaan yang turut membantu kemudian mulai menanam benih bawang putih lokal tersebut dengan cekatan menancapkan satu persatu benih si bawang lokal yang konon pernah menjadi primadona pada masanya. Harapan akan tumbuh menjadi tanaman yang sehat dan berproduksi tinggi menjadi harapan yang diaminkan setiap petani.

Kebahagiaan akan proses bertani yang tengah saya rintis selalu saya ceritakan kepada banyak orang. Besar harapan saya dengan bercerita pada banyak orang, maka semakin banyak yang tahu dan mengenal bawang putih lokal. Semakin banyak dikenal maka semakin besar pula peluang saya untuk mendapatkan keuntungan dari hasil bertani yang sedang saya jalani. Demikianlah pemikiran sempit saya pada saat itu.

Namun sayangnya harapan tinggalah harapan. Semua bayangan yang membahagiakan seakan  irna. Semua angan-angan bahagia runtuh karena kehadiran pandemi yang merugikan semua orang. Tidak disangka, saya pemuda usia 22 tahun dan juga seorang petani pemula harus dihadapkan dengan pandemi yang dampaknya sangat luar biasa. Hancur hati saya, runtuh semangat saya ketika mengetahui bahwa bawang putih lokal yang saya tanam ternyata tidak dapat menghasilkan materi seperti yang saya impikan. Bagaimana tidak, penurunan harga yang sangat drastis dari Rp 40.000/kg menjadi Rp 6.000/kg tentu saja tidak bisa saya terima dengan lapang dada. Jangankan untung, balik modal saja tidak bisa. Saya memang tengah belajar bertani, namun apakah salah jika saya juga mengharapkan keutungan dari hasil bertani yang saya lakukan? Saya rasa tidak. Karena sudah banyak yang saya korbankan dari waktu, uang, tenaga semua sudah saya curahkan untuk merintis usaha pertanian ini. Namun ternyata usaha keras saja tidak cukup untuk menjadi petani sukses.

Bertani berarti berfikir, bertani berarti menghitung, dan bertani berarti menebak. Konsep seperti itu ternyata saya lupakan pada saat memulai menanam bawang putih lokal. Saya lupa untuk berfikir strategi terbaik untuk menghasilkan produksi tanaman yang berkualitas dan juga melimpah, saya lupa untuk menghitung berapa banyak keuntungan dan kerugian yang akan saya alami, saya juga lupa menebak situasi dan kondisi yang mungkin saja akan terjadi. Nyatanya usaha di sektor pertanian adalah usaha yang sangat sulit di prediksi, bisa untung sangat tinggi dan bisa juga rugi sangat banyak seperti yang tengah saya alami.

Apakah kegagalan tersebut lantas melunturkan semangat saya untuk memajukan pertanian? Tentu saja tidak. Kegagalan tersebut justru menjadi pemantik semangat bagi saya untuk terus belajar dan berani mencoba kembali dengan konsep dan pemikiran yang jauh lebih matang. Layu sebelum berkembang, mati sebelum panen dan busuk sebelum disimpan, begitulah kiranya jika  kita melihat pertanian dari satu sisi sudut pandang, keberhasilan yang selalu kita bayangkan, sehingga membuat kita lupa bahwa teman sejati dari keberhasilan itu adalah kegagalan, kita lupa akan hal itu, bahwa ketika kita ingin berhasil kita juga harus siap gagal. Kini saya perlahan mulai bangkit dan mengevaluasi kegagalan yang pernah saya alami karena saya percaya bahwa kegagalan bukan untuk diratapi, namun untuk dievaluasi. Demikian cerita dari saya, semoga dapat menjadi pembelajaran untuk kita semua yang akan atau tengah memulai bertani.