Oleh: Musdalifa

 

Assalamualaikum,

Nama saya Musdalifa, sering dipanggil Musda. Lahir di Sinjai pada 10 Mei 2000.

Berarti usia saya saat ini 20 tahun. Kata orang, saya orang yang tidak banyak bicara, Introvert, dan sangat menyukai pertanian. Untuk itu, disini saya akan menceritakan pengalaman saya sehingga menyukai pertanian dan memilih menjadi petani muda.

 

Tak Ada Kehidupan Tanpa Adanya Petani

 

Bagi saya, bertani adalah seni kehidupan yang akan selalu ada sepanjang masa. Itulah filosofi hidup saya.

Berasal dari keluarga petani menjadikan saya terbiasa hidup panas-panasan di bawah terik matahari. Sewaktu Ayah saya masih hidup, membantunya di kebun adalah sebuah keharusan. Suka atau tidak suka. Begitu pula dengan ibu. Berprofesi sebagai petani sekaligus sebagai pedagang sayuran yang setiap hari menjual berbagai jenis sayuran menjadikan saya sering ikut serta membantunya berjualan. Jadi tak heran, jika saya lebih menyukai pertanian dibandingkan bidang lain.

 

Berawal Dari Praktikum Biologi

 

Materi praktikum tentang pertumbuhan dan perkembangan tanaman di kelas 12 SMA adalah awal mula ketertarikan saya untuk menjadi petani. Saat itu, saya memilih tanaman kacang panjang sebagai bahan penelitian. Proses penelitian itu saya lakukan selama satu bulan. Menjalani proses itu tidaklah mudah, dan karena itulah saya menyimpulkan bahwa profesi sebagai petani membutuhkan kesabaran dan keuletan dalam menjalaninya.

 

Belajar Budidaya Melalui Smartphone dan Petani Sekitar

 

Lulus SMA, saya tidak bisa melanjutkan pendidikan lagi. Impian untuk kuliah jurusan pertanian di universitas ternama belum bisa saya lanjutkan. Salah satu sebab karena minimnya biaya yang saya miliki. Hal itu menyebabkan saya tetap tinggal di kampung menemani ibu berjualan sayuran.

Setiap sore saya terbiasa duduk di teras rumah, main hp sambil memandangi beberapa jenis tanaman di pekarangan, terutama tanaman kacang panjang yang saat itu dipetik untuk dijadikan sayur oleh ibu saya.

“Harga seikat kacang panjang di pasar berapa Bu?” Tanya saya ke ibu.

“Masih Rp.2000 per ikat.” Jawab Ibu.

“Kalau gitu aku mau nanam kacang panjang yaa Bu di lahan belakang rumah. Hasilnya nanti kan lumayan buat sayur dan bisa nambah pembeli kuota. Hehehe.” Sahutku ke Ibu.

“Terserah kau saja. Kalau memang serius, besok ibu akan belikan bibit.” Balas ibuku lalu dia pergi ke dapur.

Mendengar jawaban itu, saya pun mulai belajar tentang teknik budidaya tanaman kacang panjang melalui aplikasi YouTube. Banyak channel yang membahas tentang budidaya tanaman itu. Beberapa video pun saya tonton untuk mengumpulkan informasi.

Selain dari hp, saya juga bertanya kepada petani sayuran yang tinggal tidak jauh dari rumah. Banyak informasi yang saya dapatkan hari itu, diantaranya mengenai cara olah lahan yang benar, modal, tenaga, dan kesabaran dalam perawatan tanaman kacang panjang terutama di musim hujan. Keesokan harinya, saya mulai belajar mengolah lahan. Tidak luas, hanya 10×10 meter. Saya olah sendiri dan menggunakan kotoran ternak sebagai pupuk dasar. Selanjutnya, di atas bedengan saya membuat lubang tanam dan ibu membantu memasukkan biji ke lubang tanam itu. Dua bulan kemudian, waktu panen kacang panjang itu tiba. Hasil panen pertama sekitar 15 ikat dan harganya tetap Rp.2000 . Hasil penjualan waktu itu Rp.30000 . Saya senang karena perjuangan saya tidak sia-sia dan untuk modalnya bagi saya sudah kembali.

Panen kedua dan Seterusnya terus bertambah dan hasil tiap penjualannya bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari saya, termasuk kuota. Hehehe.

 

Cibiran dan Ajakan Beralih Profesi Datang Dari Berbagai Pihak

 

2 tahun berlalu, saya masih bertahan menjadi petani. Berbagai ajakan pun datang baik dari keluarga bahkan tetangga. Mereka datang untuk mengajak saya merantau ke kota bahkan ke luar pulau. Mereka menyarankan agar saya mencari pekerjaan lain dengan alasan karena bertani itu menyebabkan saya terlihat lebih tua dibandingkan gadis lain yang seumuran dengan saya.

Pernyataan itu awalnya membuat saya Insecure. Selain karena status sebagai seorang gadis belia juga karena harga sayuran yang anjlok saat itu.

 

Hasil Budidaya Menjadi Jawaban

 

Selain tanaman kacang panjang, berbagai jenis tanaman lain, seperti mentimun, bayam, sawi, jagung, dan kangkung, turut saya budidayakan dengan pola organik dibantu oleh keponakan saya. Dari hasil penjualan sayuran itu, banyak kebutuhan saya yang bisa terpenuhi seperti pakaian, kuota, bahkan Handphone baru pun bisa saya miliki. Selain itu, semenjak saya memilih untuk tetap menjadi petani sayuran, kebutuhan sayuran keluarga bisa terpenuhi tanpa harus membeli, bahkan banyak tetangga yang merasa senang karena mereka juga bisa menikmatinya secara gratis.

Hingga akhirnya saya menampik cibiran itu dan profesi sebagai petani sayur saya tetap lakoni.

 

Tetap Bertani Dimasa Pandemi

 

Saat ini, di tengah wabah pandemi covid-19, harga beberapa jenis sayuran sempat anjlok. Akan tetapi itu tidak menyurutkan semangat saya untuk tetap jadi petani. Mentimun dan kacang panjang adalah dua jenis tanaman yang saya budidayakan dimasa pandemi ini karena harga jual keduanya tetap stabil.

Selama pandemi, anjuran untuk tetap di rumah adalah sebuah keharusan sehingga semangat saya untuk terus belajar bertani semakin tinggi, bahkan ada beberapa anak remaja dari tetangga saya datang ke rumah untuk belajar teknik budidaya sayuran. Meskipun harus memenuhi protokol kesehatan, tapi itu tidak menghalangi niat mereka untuk ikut belajar. Saat ini, kami akhirnya melakoni profesi yang sama, yaitu bertani sayuran. Karena menurut mereka, bertani saat ini adalah salah satu alternatif untuk tetap belajar sekaligus mampu memenuhi kebutuhan keluarga. Selain hemat, keluarga pun sehat karena pola tanam kami adalah pola budidaya organik.

 

Petani Adalah Pahlawan

 

8 bulan berlalu, pandemi covid-19 belum usai. Semua orang butuh makan dan tentunya makanan sehat sehingga profesi sebagai petani semakin banyak yang melakoni. Bahkan presiden Jokowi berharap agar para generasi muda tak perlu malu menjadi petani. Pemerintah berharap agar suatu saat, pertanian bisa menjadi salah satu pilar pertumbuhan ekonomi. Selain itu,pemerintah juga mengungkapkan bahwa saat ini sektor pertanian yang paling mampu bertahan bahkan meningkat pendapatannya dimasa pandemi dibandingkan bidang lain.

Hal itu membuktikan bahwa bidang pertanian merupakan sektor yang meyakinkan dan menjanjikan bagi generasi muda dan hal tersebut membuat saya semakin yakin dan tidak akan malu untuk menjadi seorang petani meskipun status saya adalah seorang gadis. Karena bagi saya Petani adalah seorang Pahlawan, Pahlawan pangan sebuah bangsa. Karena Pahlawan itu, adalah mereka yang hidupnya bermanfaat bagi orang lain.

Untuk itu bagi teman-teman generasi muda, marilah kita bersama-sama berpikir untuk menjadikan Pertanian sebagai salah satu cita-cita kita. Yaitu cita-cita untuk menjadi Petani Muda Mandiri, Inspiratif dan Sukses di kemudian hari.

 

Karena,

Kalau bukan kita siapa lagi?

Kalau bukan sekarang kapan lagi?

 

Salam Petani Muda