FADHLI ILHAMI – Peneliti AKATIGA

 

Uji, 24 tahun, adalah salah seorang anggota kelompok petani muda organik di kampung Cibiru, Desa Cicantayan, Sukabumi. Ia bergabung sejak program diresmikan, pada awal 2019.  Sebelum itu, Uji belum pernah merasakan bekerja di bidang pertanian dan tidak pernah ikut membantu orang tua ke sawah. Karena sulit mendapatkan kerja di tempat terdekat, ia pun pergi merantau ke kota Bandung.  Uji bekerja di Bandung selama empat tahun sebagai karyawan di sebuah usaha catering milik orang kampung Cibiru. Tahun 2018 dia memutuskan kembali ke kampungnya karena merasa bosan bekerja di Bandung.

Menurut Uji, ketika dia di Bandung upah yang didapat tidak bisa tersimpan karena selalu habis untuk makan dan untuk mengikuti gaya hidup orang muda perkotaan pada umumnya seperti membeli pakaian, “nongkrong”, dan membeli smartphone. “Pas pulang terakhir 2018, bareng Dacon (teman Uji) uang cuma 50 rebu”, ujar Uji sambil tertawa mengingat momen itu.

Pada saat balik ke kampung halaman, ia belum mendapatkan pekerjaan apapun. Berbagai lamaran ke perusahaan garmen dan sepatu di sekitar Sukabumi sudah diupayakan namun tidak ada yang diterima. Pekerjaan di pabrik adalah idaman banyak orang muda di Sukabumi. Namun dibutuhkan uang yang cukup besar jika ingin memastikan satu kursi di pabrik-pabrik besar yang ada di sana. Banyak ‘calo’ yang menawarkan jasa memasukkan orang ke pabrik, biayanya bisa mencapai Rp10.000.000 sampai Rp20.000.000. Pada akhirnya orang-orang seperti Uji tidak memakai jasa calo karena besarnya biaya tersebut dan karenanya akan dengan mudah dieliminasi dalam proses rekruitmen perusahaan. Uji kemudian mencoba bekerja pada usaha pembuatan bata di desanya. Tetapi, pekerjaan tersebut tidak sebanding dengan upah yang didapatkan. “Paling besar cuma 80 rebu, itu untuk sekitar 4.000 bata, kalau sepi bisa nggak bawa uang atau paling besar juga 20.000”, kisah Uji.

Berhenti jadi buruh bata, Uji kemudian bekerja di usaha kerajinan bambu milik salah seorang pemuda di kampung Cibiru. Di situlah dia berkenalan dengan program Ayo Jadi Petani Muda dan bertemu dengan salah satu peneliti dari AKATIGA. Menurut Uji, keikutsertaan dia awalnya hanya sekedar coba-coba dan diminta oleh Pibsa (fasilitator program Ayo Jadi Petani Muda desa Cicantayan-pemilik usaha kerajinan bambu). “Awal sih kabayangnya mengisi waktu luang aja, ada kegiatan lainlah selain bekerja”, ungkapnya. Ia tidak menyangka dalam keikutsertannya pada program Ayo Jadi Petani Muda banyak pengetahuan dan nilai tentang pertanian yang ia dapatkan hingga saat ini. Uji, Pibsa, dan beberapa pemuda lain di Cibiru pun membentuk komunitas tani dengan nama Ketan Pedo (Kelompok Petani Muda Organik).

Salah satu yang ia ingat adalah ketika salah seorang narasumber dari Program Ayo Jadi Petani Muda menyemangati orang muda di Cibiru. Narasumber (Pak Nahum) menjelaskan bahwa pertanian adalah pekerjaan yang banyak sekali manfaatnya jika dikerjakan dengan serius. Selain mendapatkan manfaat ekonomi, petani juga bisa menjadi pahlawan pangan, tanpa petani akan banyak orang kelaparan, negara dimulai dari petani. Begitulah setidaknya kata-kata yang sering terngiang dalam pikiran Uji.

Sejak terlibat intensif dalam program Ayo Jadi Petani Muda, pandangan Uji tentang pertanian sebagai alternatif pekerjaan mulai tumbuh. Saat ini, Uji tidak hanya membantu kegiatan pertanian kelompok. Ia juga mulai mengaplikasikan pengetahuan yang dia dapat di lahan milik orang tua. Ia meminjam lahan orang tua dan menanaminya dengan sayuran. Kebun Uji saat ini ditanami Caisim, ada sekitar 14 bedeng yang ia tanami. Rencana kedepan ia akan melihat hasil panen dari uji coba di lahan tersebut. Jika hasilnya lumayan dan bisa dijadikan sumber penghidupan, Uji akan memilih untuk tinggal di desa dan menjadi petani. Kalaupun hasilnya tidak cukup besar, Uji berencana untuk bekerja sampingan lain sambil tetap menanam sayur. Jika uji coba ini tidak bagus, minimal dia mendapatkan pengetahuan yang sangat berarti untuk masa tuanya jika kembali ke desa.

“Saya sadar pada akhirnya di masa tua saya akan kembali ke desa, kalau saya tidak belajar (bertani) dari sekarang mau kerja apa nanti di desa, makanya saya ujicoba tanam di sawah milik orang tua. Saya ambil bibit dari atas (lahan kelompok tani pemuda). Alhamdulilah, sekarang tanam di 18 bedeng, saya bikin sumur juga di lahan, belajar dari kegiatan bahwa sayur butuh air yang cukup,” ungkapnya.

Di program Ayo Jadi Petani Muda Uji merasa mendapatkan banyak sekali ilmu tentang pertanian, tidak hanya pada teknis bertani tetapi juga bagaimana menghargai pertanian dan melihat petani sebagai profesi, yang bisa mengatasi persoalan sulitnya mendapatkan pekerjaan di bidang nonpertanian. Sisi lainnya, dia memiliki optimisme besar terhadap program untuk bisa menjadikan pertanian Ketan Pedo saat ini menjadi basis pertumbuhan pertanian organik orang muda di Sukabumi. []