Charina Chazali

Dalam sejarah intelektual dan aktivisme di Indonesia, hanya ada sedikit perempuan yang secara konsisten bekerja dan memberi kontribusi pada penelitian agraria dan penguatan kelompok petani di Indonesia. Satu di antara yang sedikit itu adalah Ina Erna Slamet-Velsink. Lahir di kota Emmen di Belanda pada 10 Desember 1926, Ina tumbuh dalam keluarga pendidik dengan kedua orang tuanya yang bekerja sebagai guru.

Di masa sekolah, Ina bertemu dengan seorang wartawan Indonesia yang bernama Slamet. Keduanya menjalin cinta kemudian menikah di Belanda. Dari pernikahannya ini, Ina memiliki tiga orang anak. Meski sudah berkeluarga dan beranak tiga, Ina memutuskan tetap melanjutkan sekolah dan berbagai kegiatan aktivisme di Indonesia. Selain aktif di dunia aktivis, Ina juga aktif di dunia kampus. Ia pernah mengajar di Jurusan Antropologi Budaya dan Sastra Perancis Universitas Indonesia pada tahun 1960-an.

 

Karya-karya Ina Slamet

Pada tahun 1986, Ina menyelesaikan disertasinya di Belanda dengan judul Emerging Hierarchies: Processes of Stratification and Early State Formation in the Indonesian Archipelago : Prehistory and the Ethnographic Present dan diterbitkan menjadi buku oleh KITLV Leiden di tahun 1995. Dalam karya ini, Ina menganalisis beberapa kelompok etnis di Indonesia dan menunjukkan pentingnya memahami proses dan sejarah munculnya diferensiasi dan stratifikasi sosial, serta bagaimana interelasi yang kompleks ini menghasilkan hiraki sosial.

Selain itu, hal yang menarik dalam buku ini adalah analisa Ina tentang kesatuan kelompok – kelompok masyarakat di Indonesia yang memiliki kekuasaan sendiri. Ina melihat proses dinamis negosiasi antara penguasa (raja) dan rakyat dalam pengelolaan tanah, serta mengaitkannya dengan migrasi dan pembukaan tanah baru. Pembukaan tanah baru dan migrasi bukan hanya dilihat sebagai tradisi dan hal yang umum dalam kelompok etnis, tetapi juga akibat tekanan dan konflik internal yang terjadi di wilayah sebelumnya.

Jauh sebelum disertasinya rampung, Ina telah banyak menuliskan pemikiran dan kecintaannya pada kelompok petani dan miskin di Indonesia. Ina tidak hanya menulis mengenai kajian petani ke dalam tulisan akademis, namun dirinya juga melahirkan banyak puisi dan sajak dengan beragam tema, dari kondisi kemiskinan petani di Indonesia sampai sajak romantis yang ditujukan kepada anak-anaknya.

Salah satu puisinya yang kontroversial sampai diterbitkan di Journal of Peasant Studies pada tahun 1986 berjudul Bentuk-bentuk Perlawanan Petani Sehari-hari (Everyday Forms of Peasant Resistance) yang diterjemahkan oleh Ben White. Puisi ini mengkritik seminar dan mazhab expert yang banyak dibicarakan saat itu tentang perlawanan petani. Puisi ini setidaknya menunjukkan dua hal dari pemikiran Ina. Yang pertama adalah dilema petani saat itu: antara memberontak namun mendapatkan gebukan, siksaan, bahkan pembantaian, atau adem ayem patuh menerima nasib ketimpangan atas nama roda pembangunan. Yang kedua adalah kritikan keras Ina kepada para intelektual yang berkiblat pada universitas – universitas di Boston, Yale, dan Berkeley, yang lebih mementingkan ‘keamanan’ secara ilmiah seperti prosedur statistik, namun belum tentu menunjukkan realitas kehidupan petani kecil.

Ada banyak lagi karya yang pernah ditulis Ina. Beberapa karya kunci lainnya adalah Yang Berkuasa, Yang Tersisih, Yang Tak Berdaya: Demokratisasi yang Bagaimana di Indonesia? (AKATIGA, 2005),  Pokok – pokok Pembangunan Masjarakat Desa (Universitas Indonesia, 1962 sebagai bahan perkuliahan dan Bhratara, 1965 sebagai cetakan kedua), Kepemimpinan Tradisional di Pedesaan Jawa (salah satu bab dalam buku Kepemimpinan Jawa yang diterbitkan Yayasan Obor, 2001), Views and Strategies of the Indonesian Peasant Movement on the Eve of its Annihilation in 1965–66 (Institute of Social Studies, 1988). Dan masih banyak karya Ina yang sampai saat ini belum dipublikasikan yang berupa coretan tangan.

 

Sikap Kritis dan Keberpihakan kepada Kelompok Miskin

Bukunya yang berjudul Pokok-Pokok Pembangunan Masjarakat Desa (1965) sangat baik menggambarkan keadaan empiris perdesaan masa itu. Buku ini terbit di waktu yang sangat tepat, di saat Pemerintah Indonesia baru menerbitkan Undang-undang nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. Ina mengawalinya dengan memperlihatkan kepada pembaca dan pemerintah, bahwa reformasi agraria bukanlah sekedar perombakan tanah, namun mensyaratkan perubahan hubungan – hubungan atas sumber daya agraria. Sehingga, dalam bab pertama buku ini, Ina menganalisis persoalan tanah, baik pembagian hak, pajak tanah, dan sistem bagi hasil, serta dampaknya bagi petani kecil.

Dalam buku tersebut, Ina juga mengingatkan bahwa semangat modernisasi pertanian yang bertujuan meningkatkan produksi pangan harus dilihat secara hati – hati. Perkembangan ekonomi harus didampingi dengan perkembangan sosial politik, khususnya pada mereka yang menjadi kelompok terpinggirkan. Jika tidak, maka pembangunan ekonomi tidak hanya menguntungkan segelintir orang saja, bahkan akan memperkuat status quo yang telah tercipta (hal 31). Ina juga mengkritik pemikiran Geertz mengenai sikap moril (seperti gotong royong) dan tradisi tolong menolong masyarakat Jawa yang dianggap oleh Geertz melawan rasionalisasi dan modernisasi. Ina menyebutkan bahwa sikap di atas bukan seharusnya dipangkas, namun terus dipupuk karena sebagai modal berharga bagi pembangunan perdesaan yang kental dengan semangat sosialisme (lihat hal 164 – 168). Kritikan dalam buku itu sampai saat ini masih sangat relevan bagi perjalanan panjang pembangunan perdesaan di Indonesia.

Lebih lanjut lagi, dalam buku ini Ina mengkritik sistem koperasi yang saat itu banyak dihubungkan dengan semangat gotong royong masyarakat desa, nyatanya tidak jarang ditunggangi oleh tuan tanah dan petani kaya. Dirinya memberikan contoh kelompok koperasi padi, kopra, dan karet di Jawa, Sulawesi, dan Kalimantan. Realitas ini bagi Ina, mensyaratkan koperasi bukanlah hanya pengetahuan minimum mengenai pembukuan dan segi teknis saja, tetapi dasar kesukarelaan dan hak – hak yang penuh bagi petani miskin dan buruh tani mengawasi usaha koperasi tersebut. Ina tidak hanya berhenti di situ, tetapi memberikan masukan usaha membangun koperasi lebih baik dilakukan secara sederhana, kecil, dan tidak menggunakan prosedur – prosedur yang berbelit-belit, seperti yang ada sebelumnya (lihat hal 94-100).

Bukan hanya itu, Ina juga pernah menulis kajian atas hasil penelitian yang dilakukan oleh kader – kader Barisan Tani Indonesia (BTI) mengenai masalah agraria di perdesaan (di beberapa tempat di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Lampung). Ina menunjukkan bahwa BTI mampu melakukan penelitian yang berprinsip bottom-up research dan participatory action research yang dilakukan persis beberapa tahun sebelum terjadinya Gerakan 30 September 1965. Banyak temuan dari penelitian ini dianalisis ke dalam buku Pokok-pokok Pembangunan Masjarakat Desa.

Salah satu kontribusinya yang menarik adalah menunjukkan partisipasi perempuan dalam pengkaderan BTI yang saat itu hampir tidak pernah diangkat dalam kajian – kajian perdesaan (lihat White, 2015 dan Slamet, 1988). Ina juga pernah menjadi pembicara dalam kongres BTI dan dianggap sebagai salah satu akademisi yang semangat mengajak petani untuk meneliti atas fenomena yang terjadi di perdesaan.

 

Spirit yang tak Pernah Padam

Itu hanyalah segelintir dari tulisan dan aktivisme Ina yang lugas dengan analisis ekonomi politik seperti relasi antar kelas, diferensiasi kelas, dan konflik kepentingan. Satu kekuatan Ina Slamet ini juga tercermin dari pandangan Hans Antlov yang mengatakan bahwa sudut pandang ekonomi politik sangat tepat mengidentifikasi akar struktural dari kemiskinan dan peminggiran, namun biasanya kurang membantu dalam memecahkan masalah – masalah yang terjadi. Ina Slamet merupakan satu diantara segelintir akademisi yang tak hanya berhenti menganalisis struktur sosial, namun juga mencoba menemukan jalan keluar dari keterpinggiran (lihat kata pengantar yang ditulis Antlov dalam buku Yang Berkuasa, Yang Tersisih, Yang Tak Berdaya: Demokratisasi yang Bagaimana di Indonesia?).

Dari sikap intelektual dan keberpihakannya ini Ina harus membayar mahal. Ia dijadikan tahanan rumah pada masa Suharto berkuasa. Sampai tulisan ini rampung, Ina masih hidup dan tinggal di Bogor (Jawa Barat) bersama anaknya. Meskipun saat ini Ina sudah buta, namun pendengaran dan daya pikirnya masih baik. Dirinya senang menceritakan pengalamannya kepada mereka yang masih muda yang mampir ke rumahnya. Semangat dan konsistensinya masih kentara meskipun tahun ini Ina telah berusia 93 tahun. Bahkan, setiap sore Ina masih meminta dibacakan buku kesukaannya.

 

Daftar Rujukan

  • Slamet, I. 1965. Pokok-pokok Pembangunan Masjarakat Desa. Jakarta: Bhratara.
  • Slamet, I. 1986. Seminar: Everyday forms of peasant resistance. The Journal of Peasant Studies, 13:2, 144-148, DOI: 10.1080/03066158608438296
  • Slamet, I. 1988. Views and strategies of the Indonesian Peasant Movement on the eve of its annihilation in 1965–66. The Hague: Institute of Social Studies.
  • Slamet, I. 2005. Yang Berkuasa, Yang Tersisih, Yang Tak Berdaya: Demokratisasi yang Bagaimana di Indonesia?. Bandung: AKATIGA.
  • White, B. 2015. Remembering the Indonesian Peasants’ Front and Plantation Workers’ Union (1945–1966). The Journal of Peasant Studies, DOI: 10.1080/03066150.2015.1101069

Charina Chazali adalah peneliti AKATIGA yang menekuni pertanahan dan kesempatan kerja orang muda di perdesaan. Charina menamatkan studi di Social Policy for Development, International Institute of Social Studies, The Hague. Penulis berterimakasih kepada Isono Sadoko yang telah memberikan informasi tak terpublikasi untuk penulisan artikel ini.