Oleh: Kristina Kambora

 

Bertani adalah kegiatan yang menyenangkan, menantang, dan bikin betah. Berbicara tentang bertani, tentu bukanlah suatu hal yang baru. Tetapi dalam praktek nyata masih banyak yang mengatakan bertani itu rumit, capek, dan tidak menarik. Bertani memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri, memberikan tantangan dan juga kepuasan bagi petani itu sendiri. Hal-hal itulah yang membuat saya senang dan mencintai dunia pertanian.

Nama saya Kristina M. Kambora, S.Pd, seorang ibu rumah tangga lulusan ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

***

Mencoba dan Gagal

Secara pribadi, saya sudah mulai bertani mandiri sejak masih di bangku kuliah semerter VII tahun 2015, memulai bertani seadanya, perdana dengan 1.000pohon cabe saat ditanam dan 866pohon berhasil sampai panen. Bertani di lahan yang bukan milik sendiri dengan sistem bagi hasil dengan pemilik lahan, hanya bermodal tekad dan gemas karena melihat kondisi tanah yang subur dan air yang berlimpah. Jarak dari rumah tempat tinggal ke lahan kurang lebih 3Km.

Waktu trus berjalan, tibalah saatnya pohon-pohon cabe berbunga dan berbuah, senang sekali rasanya, bahagia meliputiku karena sebagai pemula tentu siapapun pasti merasakan hal yang sama. Saat buah-buah sudah mulai besar, bahagia itu perlahan sirna dan sempat hampir putus asa karena buah pertama yang begitu lebat berguguran hampir 70%. Ada rasa kecewa tapi sayapun bangkit kembali serta mencari solusi dan akhirnya dapat diatasi dengan baik.

Saya menaman hanya sekali musim tanam dan 3x masa panen dengan hasil yang memuaskan dan hasil bertani tersebut bisa dinikmati oleh teman-teman dari kabupaten tetangga.

Tahun 2017¸ saya menanam tomat dan terung ungu menggunakan polibag di belakang rumah di atas para-para bambu. Hanya sekali musim tanam karena kondisi tempat yang minim sinar matahari.

Tahun 2018-2019, saya menanam jagung, kacang hijau, dan kacang tanah di lahan 20×30 dan hasilnya cukup memuaskan, bisa untuk dikonsumsi sendiri dan dijual.

***

Merintis dengan modal kecil

Belajar dari pengalaman tahun-tahun sebelunnya, di tahun 2020 saya nekad membuka lahan 30×40 di bawah pohon jambu mente, lahan yang sudah lama tidak ditanami tanaman-tanaman horti karena menurut saya sudah tidak produtif lagi. Kondisi tanah keras, penuh dengan akar-akar pohon, dan banyak ditumbuhi rumput ilalang. Daerah yang panas, kering karena berada di dataran tinggi, sumber air susah dan hanya mengandalkan sumur berjalan alias air tangki.

Demi kenyamanan tanaman dari gangguan hewan, saya membeli bambu sebanyak 30batang dan mencari kayu di sekitar lahan utuk dijadikan tiang pagar keliling.

Bermodal tekad dan semangat, saya menanam dengan 2 (dua) komoditi utama yaitu tomat dan cabe, dan juga menerapkan sistem tumpang sari dengan sayur-sayuran cepat panen untuk operasional. Jarak rumah ke lahan kurang lebih 60m. Untuk mengaliri air dari rumah ke lahan, saya menggunakan selang dan pipa besi dengan gaya grafitasi. Selang 1 dim sebanyak 1 roll (50m) ternyata masih kurang. Karena keterbatasan uang, saat itu saya mencari orang yang mempunyai pipa besi di rumah yang sudah tidak digunakan lagi, saya minta untuk barter dengan beras 5kg dan saya berhasil membawa pulang pipa besi 1 dim sebanyak 6 batang. Dari batas selang 50m saya lalu menanam pipa dalam tanah melewati kintal orang dan ruas jalan setapak. Sampai disitu juga masih kurang karena air belum bisa sampai ke lahan. Usaha yang sama sehingga saya dapat membeli selang ½ dim sebanyak 1 roll lagi dan siap digunakan. Di lahan tersebut saya menampung air menggunakan 2 buah drom aspal bekas.

Total biaya pengolahan lahan, pemagaran kintal, biaya belanja instalasi irigasi, benih tanaman, biaya pemupukan dan penanganan hama kurang lebih Rp.5.000.000 + biaya beli air, 1 tangki/minggu selama 12minggu = Rp 980.000.

Saya dibantu orang-orang rumah harus memikul selang pagi dan sore, dan selama satu bulan masih menyiram tanaman-tanaman (800pohon tomat dan 1.000pohon cabe rawit) secara manual dengan menggunakan kaleng bekas yang dilubangi bagian bawahnya dengan ember yang ditenteng dari pohon ke pohon.

Perasaan senang bertani semakin besar karena ditambah dukungan dari keluarga (bangun pagi lebih awal, hampir tidak ada waktu istirahat siang) demi membantu mengurus tanaman. Juga dukungan dari lingkungan tetangga-tetangga yang mengijinkan kintalnya untuk kami gali untuk menanam pipa dan dilewati selang setiap hari, juga mengandangkan hewan, serta melarang anak-anak mereka untuk tidak bermain di lahan pertanian.

***

Bahagia Ketika Panen

Satu bulan berjalan, lahan sudah semakin hijau, rasa bahagia semakin besar, kami semakin betah di lahan, dan tetangga mulai senang karena ada pemandangan yang berbeda serta dapat menikmati segarnya sayuran sayuran yang dipetik langsung dari pohonnya. Berkat perkembangan dan kemajuan teknologi, , sayur – sayur pun ahirnya bisa dipasarkan secara online, dari hasil menjual sayuran secara online (facebook) kami gunakan untuk membeli air (6.000L / minggu) untuk menjamin kehidupan tanaman-tanaman lainnya.

Berkaitan dengan penjualan online, saya secara pribadi sangat memanfaatkan paketan internet untuk memasarkan semua produk atau jasa yang bisa menghasilan uang untuk menjamin keberlangsungan hidup.

Seiring berjalannya waktu, kami diperkenalkan dengan teknologi irigasi sederhana atau yang sering disebut irigasi tetes menggunakan selang drip untuk menghemat penggunaan air. Selain menghemat air, juga menghemat waktu dan tenaga. Saya lalu memutuskan untuk membeli selang drip, pipa paralon, dan alat alat lainnya dengan menggunakan uang dari hasil menjual sayur dari lahan itu sendiri.

Setelah semua dipasang dan digunakan, pekerjaan dilahan menjadi lebih mudah dan biaya semakin murah, tetapi piul selang pagi dan sore masih belum berhenti.

Bertani menurut saya sangat menguntungkan karena dapat membantu perekonomian keluarga saya sendiri, kebutuhan dapur hampir 50% tersedia di lahan sehingga biaya kebutuhan dapur bisa dialihkan ke kebutuhan-kebutuhan lain. Selain menguntungkan pribadi, juga menguntungkan masyarakat sekitar karena bisa mendapatkan bahan makanan yang segar dan terjangkau tanpa harus jauh-jauh mencari bahan makanan ke pasar tradisional. sangat menghemat biaya operasional apalagi dengan adanya layanan antar di tempat/COD seperti yang sering saya lakukan.

Dengan menjamin ketersediaan bahan pangan, sesungguhnya petani adalah pelaku utama dalam mewujudkan negara yang berkedaulatan pangan.

Jadi, bertani bukan seberapa besar modal yang dibutuhkan tetapi seberapa besar kemauan untuk bisa menikmati dan menjadikannya sebagai pekerjaan mulia.

Lakukan sambil belajar dan belajar sambil melakukan, buka diri terhadap semua informasi dan tanggap terhadap perkembangan teknologi baik di bidang pertanian (cara-cara mudah bertani) maupun sistem pemasaran hasil produsi pertanian untuk mendapatan kualitas harga terbaik.

***

Harapan dan Impian

Menjadi petani sukses tentu menjadi harapan dan kepuasan tersendiri bagi petani karena selain menjamin kehidupannya, juga menjamin ketersedian bahan makanan bagi masyarakat sekitar.

Kepada semua sahabat petani muda dari Sabang sampai Merauke, mari kita terus mencintai profesi kita sebagai petani untuk mewujudkan Indonesia yang berkedaulatan pangan.

Kepada semua sahabat orang mudah yang berkeinginan untuk bertani, ayoo jangan ragu, sungguh bertani itu menyenangan! Jika ingin coba-coba, cobalah 1,000pohon saja, tekuni, rawat dan pastikan sampai berhasil.

Salam Petani Muda…

Sudah waktunya yang muda-muda harus bangkit…

Mari bergandeng tangan mewujudkan Indonesia yang berkedaulatan pangan..

Ayo bertani