Pola Migrasi Kelompok Muda NTT

HIGHLIGHT

Studi ini menyarankan pemerintah Indonesia untuk memberikan perhatian khusus terhadap pola migrasi internal pemuda, terutama di mana ada risiko terhadap kesejahteraan dan keselamatan pemuda, dan secara umum memberikan perhatian terhadap tantangan yang dihadapi oleh kelompok usia muda saat bermigrasi.

Penelitian ini merupakan kerja sama antara Plan International dan AKATIGA. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengidentifikasi pola migrasi kelompok muda antar provinsi, baik laki-laki maupun perempuan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mobilitas dan migrasi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan siklus hidup bagi kaum muda di NTT, terutama karena kebutuhan untuk meningkatkan kondisi ekonomi yang belum terpenuhi karena terbatasnya kesempatan kerja di desa mereka.Istilah orang muda dalam penelitian ini mengacu pada definisi dari Plan International Indonesia, yaitu mereka yang berusia antara 15 hingga 29 tahun. Selain itu, studi ini juga menangkap perbedaan antara perempuan dan laki-laki. Metode yang digunakan mencakup tinjauan literatur dan data makro karakteristik kelompok muda dan migrasi di Indonesia  (khususnya NTT), serta melalui wawancara mendalam dengan para anak muda baik laki – laki dan perempuan,  orang tua, dan tokoh di desa tempat studi.

Studi ini menyimpulkan bahwa migrasi merupakan bagian dari siklus hidup pemuda di NTT. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk memberi para kelompok muda keterampilan dan pendidikan yang sesuai sehingga memberi mereka kesempatan yang lebih luas untuk mendapatkan pekerjaan. Hal ini juga dapat meningkatkan posisi tawar apabila mereka memilih untuk bermigrasi. Salah satu temuan penting lainnya, bagi anak muda yang memutuskan untuk tinggal di daerah asal, sangatlah penting memberi mereka akses pengelolaan tanah jika mereka ingin bekerja di bidang pertanian atau mengembangkan keterampilan lain untuk mengakses pekerjaan di sekitar desa mereka, seperti pariwisata atau industri pelayanan.

Penelitian ini juga menemukan bahwa ketika kaum muda berada di lokasi desa utama, yaitu wilayah yang berada dekat dengan pusat kegiatan atau ekonomi, ada lebih banyak peluang kerja dari pelbagai sektor. Namun, di tempat di mana kaum muda tinggal di desa-desa yang jaraknya jauh dari pusat kegiatan desa, kecenderungan untuk bermigrasi meningkat. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa bagi banyak kaum muda, keputusan untuk bermigrasi tidak selalu menjadi pilihan pribadi. Ada kombinasi berbagai faktor yang berdampak langsung pada motivasi dan niat pemuda untuk bermigrasi. Faktor-faktor itu di antaranya adalah pengaruh keluarga dan kondisi atau norma sosial-budaya masyarakat tempat mereka tinggal, dan lokasi desa yang menjadi pusat kegiatan.

Penelitian ini merekomendasikan untuk memperluas akses sektor pertanian (seperti pengelolaan tanah) dan akses sektor ekonomi lain terhadap peluang kerja bagi kaum muda di desa-desa. Hal ini dapat dicapai melalui pengembangan hortikultura dan program pelatihan dan dukungan yang berkelanjutan di sektor pertanian dengan memperkenalkan komoditas budidaya jangka panjang, seperti kemiri, kopi dan cengkeh. Sehubungan dengan budidaya hortikultura, kebutuhan akan pelatihan bagi pemuda laki-laki dan perempuan meningkat, seiring dengan meningkatnya pendidikan di NTT. Namun, peningkatan pendidikan tersebut harus disertai dengan perluasan lapangan kerja sehingga pada gilirannya dapat berkontribusi terhadap perbaikan kondisi ekonomi di masing-masing daerah. Studi ini menyarankan pemerintah Indonesia untuk memberikan perhatian khusus terhadap pola migrasi internal pemuda, terutama di mana ada risiko terhadap kesejahteraan dan keselamatan pemuda, dan secara umum memberikan perhatian terhadap tantangan yang dihadapi oleh kelompok usia muda saat bermigrasi.

Selengkapnya di laporan penelitian

  • Year

    2016

  • Fokus kegiatan

    Kepemudaan

  • Lokasi:

    Manggarai Barat, Sumba Barat, dan Timur Tengah Selatan

  • Koordinator Studi:

    Fauzan Djamal dan Suzanne Naafs (QC)

  • Tim Peneliti:

    Viesda Pithaloka, Muklas Aji Setiawan, Fadhli Ilhami, Phadli Hasyim, Agnes Gita, dan Rasmita Yulia, Widya Garnieta.

Donor