Oleh: Cita Mahardika Hariyono

 

Semakin hari, fakta mengenai sampah dunia semakin meresahkan. Sampah ini tidak hanya mencemari daratan, namun juga mencemari perairan. Pencemaran akibat sampah ini tentunya dapat merusak ekosistem dan menghilangkan nilai estetika lingkungan. Salah satu yang dapat dilakukan adalah mulai mengelola sampah dimulai dari skala rumah tangga. Mengapa harus di mulai dari skala rumah tangga? Karena rumah tangga merupakan kontributor pertama dan terbesar dari sampah yang dihasilkan sehari-hari. Sampah yang dihasilkan meliputi limbah sayur, buah-buahan yang membusuk, makanan sisa, serta sampah non organik seperti plastik yang sangat susah diurai lingkungan.

Menyadari bahwa pencemaran lingkungan ini merupakan hal yang serius, saya mulai memikirkan langkah. Bagaimana caranya saya dapat memanfaatkan sampah organik ini agar menjadi lebih menguntungkan? Akhirnya, saya mencoba untuk mempelajari teknik pertanian yang belum banyak dilakukan oleh masyarakat sekitar, tentunya dengan melibatkan sampah didalamnya. Konsep yang saya angkat dalam pertanian yang saya lakukan adalah “zero waste farming”. Saya mencoba memanfaatkan sampah organik dan non organik yang dihasilkan sehari-hari menjadi beberapa hal yang memberikan nilai tambah.

Dikarenakan saya tinggal di daerah perkotaan, metode pertanian yang saya lakukan diadaptasi dari konsep urban integrated farming system atau sistem  pertanian terpadu yang dilakukan di daerah perkotaan. Sistem ini  memadukan  komponen  agroindustri yang saling berkaitan satu sama lain misalnya pertanian, peternakan, perikanan, dan pengelolaan limbah. Keuntungan dari penerapan sistem ini yaitu dapat meningkatkan efektifitas lahan dan efisiesi energi. Lahan yang digunakan adalah lahan yang sama dan dapat dilakukan di lahan yang terbatas. Sistem ini juga ramah lingkungan karena berkonsep zero waste. Dengan sistem ini, manusia tidak hanya mendapatkan kebutuhan pangan yang tercukupi, tapi juga keuntungan dari segi finansial.

Pertama, saya memanfaatkan sampah organik untuk budidaya larva Black Soldier Fly (BSF) atau maggot BSF. Maggot BSF merupakan salah satu agen pengurai sampah organik yang ramah lingkungan. Maggot BSF dapat mengonsumsi sisa makanan, buah, dan sayuran untuk pertumbuhannya. Selain bertugas sebagai pengurai sampah organik, maggot BSF juga dapat digunakan sebagai pakan untuk hewan seperti ikan atau unggas. Maggot BSF memiliki nilai nutrisi yang tinggi dan bukan merupakan serangga pembawa penyakit, sehingga aman untuk dikonsumsi hewan. Ketersediaan maggot BSF di alam cukup melimpah karena pertumbuhannya cepat, relatif mudah dibiakkan, dan biaya yang dikeluarkan tidak terlalu besar,

Gambar Lalat BSF Dewasa dan kandang pemeliharaan BSF

(sumber: dokumentasi pribadi)

 

Maggot berusia 2 minggu adalah maggot yang optimal untuk digunakan sebagai pakan. Saat pemanenan, maggot tidak diambil semua untuk pakan ikan. Sebagian maggot akan dibiarkan tumbuh sampai melalui siklus selanjutnya, yaitu menjadi prepupa, pupa, sampai serangga dewasa. Serangga dewasa akan menghasilkan telur dan selanjutnya akan didapatkan kembali maggot BSF.  Maggot BSF yang sudah dipanen akan dijadikan tepung maggot BSF sebagai bahan baku pakan ikan.

 

Pakan ikan dan ayam berbasis tepung maggot BSF

(sumber: dokumentasi pribadi)

 

Sampah yang diuraikan akan menjadi biomass maggot, dan sisa penguraian pakannya dapat menjadi pupuk tanaman yang bernama “kasgot” atau bekas maggot. Kasgot berwarna kecoklatan sampai hitam seperti warna kompos. Kasgot yang berada dalam kandang pemeliharaan harus diambil dan dikumpulkan agar tidak menumpuk dan mengganggu proses pemeliharaan maggot. Kasgot ini biasanya dibersihkan 1-2 bulan sekali.

 

Maggot BSF siap panen dan kasgot yang dihasilkan

(sumber: dokumentasi pribadi)

 

Sampah organik juga dapat dimanfaatkan sebagai cairan multifungsi bernama eco-enzyme. Eco-enzyme merupakan suatu produk dari sampah organik yang dicampur dengan gula merah dan air, kemudian difermentasi kurang lebih 3 bulan. Penggunaan sampah organik sebagai eco-enzyme efektif untuk mengurangi datangnya hama dan mikroorganisme penyebab penyakit tanaman. Eco-enzyme juga dapat digunakan sebagai pembersih peralatan rumah tangga. Pembuatan eco-enzyme dengan bahan kulit buah dapat membantu membersihkan noda pada peralatan makan karena cairan eco-enzyme mengandung asam organik  yang bersifat korosif terhadap noda.

Eco-enzyme dari sampah organik

(sumber: dokumentasi pribadi)

 

Selanjutnya, agar maggot BSF dan kasgot dapat termanfaatkan, saya membuat aquaponik. Aquaponik adalah salah satu contoh sistem pertanian berkelanjutan yang menggabungkan teknik akuakultur dengan hidroponik. Secara konsep,  tanaman diatasnya akan mengambil nutrisi dari “kotoran” ikan, dan tanaman bertugas sebagai pengendali kualitas air bagi ikan. Karena kedua aspek ini saling membantu dan membutuhkan, tidak perlu lagi menggunakan pestisida dan antibiotik dalam pemeliharaannya. Jadi, sayuran dan ikan yang dipanen akan bebas dari bahan kimia sintetis.

 

Bercocok tanam dengan menggunakan teknik Aquaponik

(sumber: dokumentasi pribadi)

 

Maggot hasil budidaya akan dipergunakan sebagai pakan dari ikan, sehingga kita tidak perlu menggunakan pakan komersial lagi. Sebagai media pertumbuhannya dapat menggunakan kerikil, sekam padi, sedikit tanah, dan kasgot sebagai pupuk. Untuk wadah penanamannya, dapat menggunakan botol atau plastik bekas, sehingga dapat mengurangi sampah non organik. Hasil panen dari akuaponik dapat dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi keluarga sehari-hari.

Budidaya maggot BSF adalah salah satu kegiatan yang dapat mendukung sistem pertanian terpadu. Maggot BSF dapat mengonsumsi sampah organik dari sisa kegiatan rumah tangga sehingga dapat memangkas biaya perawatannya. Maggot BSF yang dihasilkan dapat digunakan sebagai pakan ikan dan unggas. Kasgot yang dihasilkan dapat dijadikan pupuk bagi tanaman. Sebagian dari sampah organik dapat dimanfaatkan sebagai eco-enzyme yang berfungsi sebagai pestisida alami. Tanaman dan ikan yang dihasilkan dapat dikonsumsi sendiri atau dapat pula dijual. Sisa dari tanaman yang tidak dikonsumsi menjadi sampah organik yang kemudian dapat digunakan sebagai pakan maggot BSF. Untuk lebih mudahnya, skema metode pertanian yang saya lakukan dapat dilihat pada dibawah ini:

Apabila siklus ini tidak terputus, maka akan banyak keuntungan yang didapatkan. Hal ini tentunya dapat meningkatkan ekonomi rumah tangga dan dihasilkannya bahan makanan yang sehat karena dibudidaya menggunakan bahan organik. Kebersihan lingkungan juga terjaga karena konsep zero waste terlaksana dengan baik, tidak hanya terkonsentrasi pada TPA saja.

Semoga sistem yang saya kembangkan ini bisa diaplikasikan oleh masyarakat, terutama yang tinggal di perkotaan. Kita harus menghapuskan kesan bahwa bertani hanya bisa dilakukan di desa. Yakinkan bahwa bertani tidak perlu pusing mencari lahan luas atau mencangkul tanah gersang. Bahwa kegiatan bertani, bisa dilakukan dimana saja.