Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kesenjangan antara kebijakan pemerintah Indonesia yang ditujukan kepada perempuan muda, dengan realitas kehidupan perempuan muda di daerah kepulauan terpencil dalam mengakses layanan dasar. Untuk melihat kesenjangan tersebut, penelitian ini terbagi menjadi dua tahapan. Pertama, kami mengidentifikasi dan mengeksplorasi posisi, arah, dan prioritas kebijakan di Indonesia untuk orang muda. Hal ini meliputi aturan/regulasi dan pedoman kebijakan yang secara langsung ditargetkan bagi perempuan muda maupun yang tidak langsung ditargetkan ke perempuan muda namun turut memengaruhi kehidupan mereka. Kedua, kami melakukan penggalian data di wilayah kepulauan untuk memahami situasi nyata perempuan muda terkait akses layanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, kesempatan kerja, keterampilan digital, dan kepemimpinan.
Konsep utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis perjalanan hidup (life course analysis) untuk memahami dinamika perjalanan hidup perempuan muda di kepulauan dengan menyoroti peristiwa penting (milestones), pilihan, serta pengaruh sosial, budaya, dan ekonomi yang membentuk perjalanan hidup tersebut, perspektif gender untuk memahami struktur sosial yang memengaruhi akses perempuan muda dalam layanan dasar, dan konsep agensi untuk mengeksplorasi strategi dan kemampuan perempuan muda dalam memperluas pilihan dan menentukan keputusan hidup mereka.
Penelitian ini memanfaatkan kombinasi metode kualitatif dan kuantitatif. Lokasi studi dilakukan di empat desa di Pangkajene dan Kepulauan (Sulawesi Selatan) dan Pulau Morotai (Maluku Utara). Data diperoleh dari analisis dokumen aturan/regulasi dan pedoman kebijakan pemerintah, wawancara dengan informan kunci dari pemerintah di level nasional sampai desa, aktor di luar pemerintah yang memiliki fokus kerja di bidang pemberdayaan perempuan, para perempuan muda, laki-laki muda, hingga orang tua. Selain itu, kami melakukan pengamatan kehidupan perempuan muda sehari-hari di wilayah penelitian dan survei pemanfaatan media digital pada perempuan muda kepulauan. Penelitian ini juga melibatkan beberapa perempuan muda dari desa kepulauan dari tahapan memberi masukan desain studi, penggali data lapangan, hingga proses analisis temuan.
Meskipun penelitian ini tidak berupaya untuk merepresentasikan mayoritas perempuan muda di daerah kepulauan terpencil ataupun mengevaluasi efektivitas layanan dasar, namun studi ini menawarkan perhatian khusus akan suara dan pengalaman berbagai kategori perempuan muda kepulauan terpencil yang selama ini kurang tersorot dalam penelitian. Dengan memperhitungkan tantangan unik yang dihadapi oleh perempuan yang hidup dalam konteks geografis dan sosial, studi ini juga menyoroti bagaimana perempuan muda di wilayah terpencil kepulauan menunjukkan agensi mereka meski berada dalam keterbatasan struktural. Mereka menggunakan strategi dalam memanfaatkan sumber daya yang terbatas untuk memperluas pilihan hidup mereka. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya diskusi akan pengalaman perempuan muda kepulauan yang sering terpinggirkan dapat lebih terdengar dalam wacana pembangunan nasional.




